Tentu Saja Tidak!

Oleh: Åge M. Åleskjær
Dari: July-August 2010
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia
Sebuah penekanan pada apa yang kami katakan dan yang TIDAK kami katakan.

Kami tidak menurunkan standar moral; faktanya, buah kehidupan dalam Kristus membawa standar moral yang lebih tinggi


Beberapa orang menjadi bingung saat mereka mendengar bahwa kita bebas dari hukum Taurat dan bahwa orang Kristen yang telah lahir baru Cuma memiliki satu perintah, bukan sepuluh perintah. Meskipun kebenaran ini langsung berasal dari Alkitab, saya percaya sangat tepat untuk menekankan pada apa yang tidak kami katakan. Kami tidak menurunkan standar moral; faktanya, buah kehidupan dalam Kristus membawa standar moral yang lebih tinggi. Hidup yang kami gambarkan hanya dapat dicapai oelh orang Kristen yang telah lahir baru dan memperbolehkan hidup Kristus untuk hidup didalamnya. Karena itu kami katakan bersama rasul Paulus, “Sekali-kali Tidak!”


“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?
Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Roma 6:1-2)


“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” (Roma 6:14-15)

Paulus menggunakan ungkapan ini: “Sekali-kali tidak!” sebenarnya yang dikatakan Paulus adalah: “Itu adalah sama sekali salah mengerti pesannya!”

Dia menggunakan ungkapan ini saat orang-orang mencapai kesimpulan yang salah dan membayangkan konsekuensi yang salah saat mendegar pengajarannya

Dia menggunakan ungkapan ini saat orang-orang mencapai kesimpulan yang salah dan membayangkan konsekuensi yang salah saat mendegar pengajarannya. Kenyataannya, dia sendiri yang menangkap pikiran bahwa apakah kita akan bertekun dalam dosa sehingga kasih karunia semakin melimpah. Dia mengerti bahwa beberapa orang akan berpikir bahwa inilah yang dia maksudkan, jadi dia memberikan pertanyaan untuk memberikan jawabannya.

Sayangnya, hal ini juga terjadi pada saya. Setelah beberapa pengkhotbah dan penulis mencoba untuk salah mengartikan apa yang kami ajarkan, saya harus berteriak keras: ”Sekali-kali tidak!”

Sangat jelas bahwa beberapa orang benar-benar salah mengerti pengajaran kami tentang bebas dari hukum Taurat. Mereka mengklaim bahwa kebebasan dari hukum Taurat membawa pada pelanggaran hukum. Tetapi inilah kesimpulan dari sangkalan Paulus dalam Roma 6:1-2 dan 14-15. Malah dia mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya jalan “yang bisa dilalui” untuk menuju pada kekudusan dan kemenangan atas dosa!

Karena itu, ini merupakan kesalahpahaman saat sebagian orang berpikir bahwa kami memberikan ijin untuk berbuat dosa. beberapa orang bahkan berpikir bahwa jika kita bebas dari hukum Taurat, hal itu akan memimpin pada pelanggaran hukum. Oleh karena itu mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Alkitab tentang kita dimerdekakan dari hukum Taurat. Orang Kristen yang telah lahir baru, yang telah memiliki benih Allah di dalam dia dan berjalan di dalam kasih, sangat jelas akan tunduk pada hukum Allah yang dituliskan pada hatinya, dan juga pada peraturan dan pemerintahan yang ada di dunia.

Ini merupakan kesalahpahaman saat sebagian orang berpikir bahwa kami memberikan ijin untuk berbuat dosa

Pelanggaran hukum yang dikatakan Alkitab seagai karakteristik akhir zaman adalah pelanggaran hukum di dalam dunia, diantara orang berdosa dan yang tidak mengenal Allah. Itu adalah pelanggaran hukum yang berhubungan dengan roh antikris, yang merupakan pelanggar hukum. Mencampurkan hal ini dengan pertandingan yang dijalani Paulus untuk kebenaran Injil dan kemerdekaan dari hukum Taurat serta jalan-jalan legalistik sepenuhnya merupakan salah pengertian. Itu adalah percampuran dari kata dan frase yang disebabkan oleh kebingungan bahasa.

Kekudusan juga merupakan hasil dari kasih karunia, sama seperti keselamatan oleh kasih karunia

Memiliki Pengertian Yang Benar tentang Kasih Karunia. Pada akhir Roma 5 Paulus mengulangi tentang “kekayaan dari kasih-karunia-Nya.” Dia berkata, “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Roma 5:20-21)


Mereka yang takut kalau kami mengkhotbahkan terlalu banyak kasih karunia tidak menangkap kelanjutan dan keseluruhan dari pesannya. Kenyataannya, Roma 6:1-2 merupakan jawaban langsung dari pemikiran yang mungkin dimiliki beberapa orang – penekanan yang diletakkan Paulus pada kasih karunia bisa memberikan kemerdekan bagi orang untuk berbuat dosa karena kasih karunia begitu besarnya.

Pada poin inilah dia berseru, “Sekali-kali tidak!”

Mati bagi Dosa

Faktanya, Paulus menyingkapkan fakta yang sangat memerdekakan bagi kita. Bukan kelimpahan kasih karunia memberikan ijin untuk berbuat dosa, kasih karunia itu sangat luar biasa sehingga memerdekakan Anda dari dosa! Darah Yesus membersihkan dari semua dosa dan saat mati bersama Dia, kita mati bagi dosa.

Ini adalah bagian dari Injil yang kurang sekali diajarkan dengan benar pada kita, dan hal ini membuat orang menjadi bingung. Banyak orang salah mengerti apa sebenarnya pesan indah dalam Roma 6:1-2, itu karena pengajaran tradisional telah banyak menekankan pada kejatuhan dan sifat dosa dari umat manusia. Pesannya adalah bahwa Yesus telah melakukan lebih dari sekedar mengampuni dosa-dosa kita: Dia telah melepaskan kita dari dosa dan kuasanya!

Firmannya sangat jelas tentang konsekuensi memiliki “mati bersama Kristus”:

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:6)

Ayat-ayat berikutnya melanjutkan perincian tentang hal ini dan menjelaskan tentang persatuan kita bersama Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. “Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana…” (Roma 6:10-12)

Dia telah menunjukkan pada kita bahwa keselamatan lebih kuat daripada kejatuhan dalam pasal 5:
“Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” (Roma 5:17)

Kasih Karunia Menguduskan

T. B. Barratt menulis buku yang judulnya sangat bagus. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan seperti ini “Karya Pengudusan dari Kasih Karunia”. Ini adalah poin yang sangat penting: Kekudusan juga merupakan karya dari kasih karunia, sama seperti keselamatan juga dari kasih karunia. Karena itu Paulus menulis kepada Titus,
“Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini…” (Titus 2:11-12)

Dengan kata lain: Baik kebenaran dan kekudusan diberikan kepada kita di dalam Kristus (1 Korintus 1:30). Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan perbuatan. Ayat berikut ini menunjukkan bahwa kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik (Efesus 2:8-10).


Sebagai konsekuensi, pengampunan dosa serta hidup baru yang menghasilkan perbuatan baik termasuk dalam kasih karunia-Nya. Tidak ada celah disisi manapun untuk usaha sendiri dan pekerjaan manusia. Ia yang bermegah, biarlah ia bermegah di dalam Tuhan!

Jika kekuatan kita sendiri dibutuhkan pada salah satu sisi, kita akan memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Merupakan hal yang alami bagi manusia untuk mencari sesuatu yang bisa kita banggakan. Tetapi kebanggaan diri kita ditiadakan! Jika hasilnya baik, maka seluruh pujian dan kemuliaan adalah bagi kasih karunia-Nya (Efesus 1:6).

Hal itu membuang jauh cinta akan dosa; membuat kita menyukai hal-hal yang disukai Allah dan membenci hal-hal yang dibenci Allah

Kasih karunia dan keselamatan bukanlah hasil usaha kita, tetapi dari Allah (Efesus 2:8-10)

Hidup yang baru bukanlah dari kita, tetapi dari Allah (Yohanes 1:12-13)

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2 Korintus 3:5)

Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan (1 Korintus 1:30-31).

“Intisari dari Injil”
A. B. Simpson menulis dengan sangat indah tentang hal ini. Dia menggambarkan kekayaan dalam keselamatan. Pertama dia berbicara tentang darah yang membersihkan dari semua dosa dan kemudian dia lanjutkan:
“Tetapi lebih dari itu. Hal itu juga merupakan ketetapan Allah untuk membuang dosa dari hati manusia dan memberikan kuasa kepada manusia yang lemah dan telah jatuh untuk menjadi benar dihadapan Allah dan seluruh manusia.”

Dia melanjutkan:

“Umat manusia tidak berdaya, dan intisari dari Injil adalah hal itu memberikan kuasa untuk memilih dan melakukan yang benar. Hal itu membuang jauh cinta akan dosa; membuat kita menyukai hal-hal yang disukai Allah dan membenci hal-hal yang dibenci Allah. Hal itu mempunyai kuasa untuk membersihkan, menyucikan dan meninggikan umat manusia. Hal itu merupakan kuasa ilahi yang diletakkan di dalam hati manusia yang menyebabkan kita dapat berjalan di dalam ketetapan-Nya dan menepati perintah-Nya.”

“Inilah Injil yang kita percayai dan yang kita beritakan! Pesan ini sangat menjadi fokus pada apa yang disebut sebagai “Gerakan Kekudusan” yang dialami dunia pada abad ke-19. Para pengajar seperti Simpson, Kenyon dan John G. Lake membawa dimensi lain dari pengajaran yang berpusat pada Kristus kedalam suatu masa yang sangat berfokus pada pengalaman-pengalaman pribadi, dan kita harus menyucap syukur kepada Tuhan yang mengangkat suara-suara ini yang terus melanjutkan untuk memberkati dan menuntun kita bahkan yang hidup pada seratus tahun berikutnya.

Jadi kami ingin meminta semua orang memperhatikan pada segala yang kami katakan dan menangkap pesan secara keseluruhan.

Pesan kami tentang kemerdekaan dari hukum Taurat adalah tentang jalan penyucian dari Allah.

“Hanya Dia Yang Dimerdekakan Dari Hukum Taurat Yang Dimerdekakan Dari Dosa”

”Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Roma 6:14)

Inilah dimana pesan tentang kemerdekaan atas hukum Taurat memiliki kuasa terbesarnya. Saya akan mengutip Norwegian Study Bible:
“Hanya dia yang dimerdekakan dari hukum Taurat yang dimerdekakan dari dosa”

Maka Anda telah menangkapnya! Karena “hawa nafsu dosa dirangsang oleh hukum Taurat” (Roma 7:5), keselamatan harus membebaskan kita dari hukum Taurat untuk dapat memberikan kehidupan yang berkemenangan atas dosa kepada kita. Tidak ada yang salah dengan hukum Taurat – hukum itu kudus, adil dan baik. Permasalahannya adalah dosa. Dosa dibangkitkan oleh hukum Taurat, jadi perintah yang harusnya membawa hidup, membawa kematian. Inilah fakta yang dijelaskan secara terperinci oleh Roma 7.

Sangat penting untuk mengerti bahwa ”apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah” (Roma 8:3). Kita bersyukur karena Dia, melalui Yesus Kristus Tuhan kita, telah melepaskan kita dari “tubuh maut ini,” dan memerdekakan kita dari “hukum dosa dan maut” (Roma 7:24-25 dan 8:1-2).

Mari saya ingatkan Anda kembali bahwa hidup seperti ini hanya dapat diperoleh bagi mereka yang telah lahir baru. Kita harus lahir baru agar dapat melihat kerajaan Allah.

Benar-benar Merdeka

Yesus mengkhotbahkan tentang kemerdekaan dari dosa. Dia berkata bahwa jika kita tetap dalam firman-Nya, kita akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kita (Yohanes 8:32). Dia lanjutkan dengan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:34-36)

Oleh: Åge M. Åleskjær

Former Senior Pastor at Oslo Christian Center, now spending most of his time ministering all over Norway and internationally.

Selanjutnya tentang Åge M. Åleskjær | Artikel oleh Åge M. Åleskjær