Miliki Sikap Hidup di Takhta – Beristirahat Sampai Allah Membuat Musuh-musuh Menjadi Tumpuan Kaki Kita

Oleh: Joseph Prince
Dari: February 2010

Anda tidak perlu menunggu sampai hari Natal agar dapat berjalan dalam damai dan sukacita. Anda dapat bersukacita terlepas dari situasi yang sedang Anda hadapi karena Allah ingin agar Anda untuk mengambil sikap hidup di takhta dan beristirahat saat Dia mengurus segala hal lainnya untuk Anda!

Saat ini, Yesus sedang duduk di sebelah kanan takhta Bapa (Ibrani 8:1). Alkitab mengatakan bahwa sama seperti Kristus, kita juga ada di dalam dunia ini (1 Yoh 4:17). Ini berarti bahwa kita juga duduk di sebelah kanan Bapa.

Sekarang, duduk adalah gambaran dari beristirahat. Dalam Perjanjian Lama, para imam tidak pernah duduk. Tidak ada kursi dalam tabernakel Musa ataupun di dalam Bait Suci karena pekerjaan mereka tidak pernah selesai. Tetapi Yesus duduk karena pekerjaan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30, Ibr 10:11-13). Tuhan berkata kepada saya, “Anak-Ku, katakan pada umat-Ku untuk memiliki sikap hidup di takhta.” Jadi apa artinya memiliki “sikap hidup di takhta?”

Memiliki Sebuah “Sikap Hidup di Takhta”

Mazmur 110:1–2
1 Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” 2 Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu!

Dalam bahasa Ibrani, kata “TUHAN” yang pertama mengacu pada Yehova, dan kata “tuan” adalah Adonai. Karena itu, ayat pertama sebenarnya dibaca, “Demikianlah firman Yahweh kepada Adonai ku…” Setelah Yesus mengalahkan dosa dan maut, dan bangkit dari antara orang mati, Dia kembali pada Bapa, dan Bapa berkata, “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.” Jadi sikap hidup di takhta yang dimiliki Yesus adalah duduk dan menantikan Bapa-Nya membawa semua musuh yang telah dikalahkan-Nya menjadi tumpuan kaki-Nya.

Pada masa Alkitab, musuh yang telah dikalahkan dibawa dengan diikat rantai dan raja yang menang akan duduk diatas takhtanya dan meletakkan kakinya ke atas punggung musuh yang telah dikalahkan sebagai tanda kemenangan. Sama dengan hal itu, musuh yang telah ditaklukkan oleh Yesus diseret kepada-Nya satu persatu dan diletakkan di bawah kaki-Nya.

Efesus 1:20, 22–23 (NIV)
20…membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga… 22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. 23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya…

Kita, gereja, adalah tubuh Kristus, dan siapakah yang membuat musuh-musuh itu menjadi tumpuan kaki kita? Bukan kita, tetapi Allah sendiri! Firman Allah adalah kebenaran dan Dia menepati Firman-Nya. Allah mengatakan kepada kita untuk memiliki sikap hidup di takhta seperti Yesus – beristirahat, sementara Dia membuat musuh-musuh kita menjadi tumpuan kaki kita. Jadi setiap harinya kita memiliki segala hal, termasuk musuh-musuh yang telah dikalahkan seperti penyakit, kemiskinan, depresi dan segala jenis kutuk, diletakkan di bawah kaki kita.

Masuk dalam Tempat Perhentian Allah

Apakah Anda ingin mengetahui definisi Allah tentang perhentian-Nya? Ibrani 3 menggambarkan bagamana bangsa Israel tidak diperbolehkan masuk ke dalam tanah perjanjian karena mereka meragukan Firman Allah. Akan tetapi, alih-alih mengatakan “Mereka tidak akan masuk tanah perjanjian-Ku,” Allah menyebut tanah perjanjian sebagai “tempat perhentian-Ku.”

Ibrani 3:11 sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

Ini berarti apa yang berarti tanah fisik bagi bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama, bagi orang percaya saat ini adalah tempat yang penuh dengan kasih karunia dan peristirahatan — tempat perhentian Allah! Itulah warisan Anda saat ini. Allah ingin membawa Anda keluar dari kekurangan dan masuk kedalam tanah yang penuh kelimpahan! Dia ingin membawa Anda keluar dari penyakit kedalam kesehatan prima! Dan tanah perjanjian ini adalah tempat perhentian-Nya.

Firman Allah selalu mengatakan kepada kita, “Jangan takut, jangan takut!” Tetapi tahukah Anda bahwa ada satu hal yang dikatakan dalam Alkitab agar kita takuti?

Ibrani 4:1
1 Sebab itu, baiklah kita waspada (takut), supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.

Dalam Ibrani 4:1, Allah mengatakan kepada kita untuk takut bila kita tidak masuk kedalam perhentian-Nya. Saat ini, banyak dari kita kuatir terhadap banyak hal termasuk segala hal yang Allah katakan agar kita tidak mengkuatirkannya. Tetapi satu hal yang Allah katakan agar kita takuti, malah tidak kita takuti!

Sadar akan Perhentian – Bukan Sadar akan Raksasa

Ada pelajaran lain yang dapat kita pelajari dari kisah ini. Allah berkata kepada bangsa Israel bahwa Ia telah datang untuk membawa mereka ke dalam “sebuah tanah yang penuh dengan susu dan madu” (Keluaran 3:8). Ini berarti bahwa tanah perjanjian merupakan tempat yang penuh dengan kelimpahan dan kepenuhan. Hal itu juga merupakan janji yang pasti; sebuah pernyataan tentang apa yang pasti akan dilakukan oleh Allah.

Akan tetapi, seperti apa sikap umat Allah saat mereka mencapai Kadesh-Barnea, perbatasan antara padang gurun dan tanah perjanjian? Mereka mengutus dua belas pengintai kedalam tanah perjanjian selama empat puluh hari dan memilih untuk percaya pada laporan sepuluh pengintai yang berkata bahwa bangsa Israel tidak dapat mendudukinya karena tanah tersebut didiami oleh para raksasa dari keturunan Enak (Bilangan 13:33).

Dalam bahasa Ibrani, kata Enak berarti “rantai” atau “rantai leher. Rantai di sekeliling leher adalah lambang dari kuk yang membebani Anda. Meskipun Allah telah melepaskan bangsa Israel dari penguasa mereka di Mesir dan mereka tidak lagi menjadi budak, mereka masih memiliki mentalitas sebagai budak. Tidak berfokus pada kebaikan dan janji Allah, bangsa Israel malah berfokus pada masalah raksasa mereka – Anakim – dan mereka terbebani dengan kecemasan dan ketakutan.

Saat ini, beberapa dari kita masih memiliki mentalitas budak ini. Kita sangat fokus pada “Anakim” kita – permasalahan kita dan gejala-gejalanya – dibanding dengan karya yang telah diselesaikan Yesus di atas kayu salib, sehingga kita tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian perhentian kita.

Sekarang, saya ingin memberikan pertanyaan pada Anda seperti yang ditanyakan Allah kepada saya, yang juga harus saya jawab. Pernahkah Anda membaca kisah tentang dua belas pengintai dan bertanya pada diri Anda sendiri apakah Anda akan memihak pada Yosua dan Kaleb – dua pengintai yang berkata, “Mari kita segera masuk dan merebut tanah itu!” – atau apakah Anda juga akan setuju dengan kesepuluh pengintai yang lain?

Nah, Roh Kudus berkata, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun” (Ibrani 3:7-9). Dengan kata lain, apakah permasalahan Anda lebih besar dari apa yang dikatakan Allah mengenai situasi Anda? Sebelum tubuh Anda sembuh, sebelum uang masuk ke dalam rekening bank Anda, sebelum semua permasalahan dalam hidup Anda terpecahkan, apakah Anda mau percaya bahwa Allah akan melepaskan Anda sesuai dengan Firmannya dan Anda tetap berjalan dalam peristirahatan?

Allah ingin agar Anda memiliki pewahyuan bahwa apapun yang Anda butuhkan agar Dia lakukan bagi Anda telah selesai dilakukan karena Yesus telah menyelesaikan semuanya bagi Anda, dan Allah bertanya, “Walaupun ada raksasa, maukah kamu naik dan masuk ke dalam tanah perjanjian perhentian-Ku? Maukah kamu sadar akan perhentian daripada sadar akan raksasa?”

Saat Anda Berhenti, Dia Bekerja

Apa yang terjadi saat Anda menjadi sadar akan perhentian? Mari kita melihat rahasia yang tersembunyi dibalik kisah tentang bagaimana Yesus menyembuhkan orang yang telah menderita lumpuh selama 38 tahun.

Yohanes 5:8-9
8 Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” 9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

Saya bertanya kepada Tuhan mengapa Dia menyuruh orang tersebut untuk mengangkat tilamnya. Mengapa tidak langsung menyuruh dia untuk bangkit dan berjalan? Lalu Dia menunjukkan kepada saya bahwa tilam itu adalah gambaran dari perhentian. Jadi apa yang sebenarnya dikatakan Yesus pada orang itu adalah, “Bangunlah, angkatlah perhentianmu dan berjalanlah!”

Perhatikan bahwa hari itu adalah hari Sabat, hari perhentian? Karena itu, yang dikatakan Allah adalah saat Anda berhenti/beristirahat, Dia bekerja! Bukankah itu luar biasa?

Akan tetapi, pada saat itu ada sekelompok orang yang tidak senang saat Tuhan menyembuhkan orang lumpuh itu.

Yohanes 5:10-12, 16
10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” 11 Akan tetapi ia menjawab mereka: “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah.” 12 Mereka bertanya kepadanya: “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?... 16 Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

Orang-orang religius marah karena saat itu adalah hari Sabat. Mereka memandang kesembuhan sebagai pekerjaan. Bagi mereka menyembuhkan orang pada hari peristirahatan berarti Yesus bekerja pada hari yang salah!

Sekarang, jika saja Anda bertemu dengan orang itu, bukankah Anda akan bertanya kepadanya, “Hai, apa yang terjadi padamu? Bagaimana ceritanya kamu bisa sembuh?” Akan tetapi orang yang bertemu dengannya berkata, “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” Lihatlah, orang ini tidak bisa berjalan selama 38 tahun! Tetapi orang-orang disekitarnya hanya memperhatikan bahwa dia mengangkat tilamnya di hari peristirahatan. Seperti inilah orang religius: mereka tidak bisa melihat berkat, hanya melihat masalah.

Frase Terakhir “melakukan hal-hal itu pada hari Sabat” Dalam Bahasa Aslinya, Yunani, merupakan bentuk kata kerja yang tidak sempurna (imperfect tense). Kata kerja yang tidak sempurna biasanya memiliki arti berlanjut atau tindakan yang diulang-ulang. Ini berarti bahwa sudah menjadi kebiasaan bagi Yesus untuk menyembuhkan orang pada hari Sabat dan dia sering kali melakukan mukjizat semacam itu pada hari Sabat – pada hari dimana manusia berhenti, Allah mampu bekerja!

Kesembuhan Anda Ada di dalam Perhentian

Contoh lain adalah kesembuhan seorang perempuan yang telah delapan belas tahun bungkuk punggungnya. Saat Yesus menyembuhkannya di rumah ibadat, kepala rumah ibadat itu, pendeta dari perempuan itu, berkata, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat” (Lukas 13:14).

Apa tanggapan Yesus?

Lukas 13:15-16
15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”

Yesus berkata bahwa kesembuhan perempuan itu terjadi hanya karena ia adalah anak, anak Allah. Tetapi beberapa orang Kristen masih berpikir bahwa kesembuhan adalah usaha manusia, bukan karya Allah. Mereka terus menerus berpikir, “Aku masih kurang baik melakukannya, itulah mengapa aku tidak disembuhkan.” Mereka tidak bisa bercaya bahwa kesembuhan dapat sesederhana seperti berada pada peristirahatan dalam karya Allah yang telah selesai, mengatakan dan percaya, “Tuhan Yesus, sama seperti Engkau bebas dari semua sakit dan penyakit, begitu juga aku di dalam dunia ini.”

Bahkan, tahukah Anda bahwa kata “disembuhkan” dan “santai” dalam bahasa Ibrani saling berhubungan? Salah satu nama Ibrani dari Allah adalah Yehova Rapha yang berarti “Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau” (Keluaran 15:26). Kata rapha dalam bahasa Ibrani tidak hanya berarti “menyembuhkan” tapi salah satu akar pengertiannya juga berarti “santai.” Jadi kesembuhan datang dengan berada pada peristirahatan, bukan dengan usaha. Kematian yesus telah memberikan kita kehidupan dan keutuhan.

Carilah Dahulu Perhentian Maka Akan Baik-baik Saja

Allah tidak berkata, “Tunggulah sampai semua musuhmu telah dihancurkan, sampai semua permasalahan dalam hidupmu terpecahkan.” Dia berkata, “Beristirahatlah dulu sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.”

Apa yang Anda lihat bila berkaitan dengan kesembuhan bagi tubuh Anda yang sedang sakit atau terobosan bagi tantangan keuangan Anda? Apakah Anda melihat kekurangan itu dan berkata, “Biarkan aku keluar dari situasi ini dulu. Biarkan aku mendengar laporan dokter yang mengatakan segalanya baik-baik saja, baru kemudian aku bisa beristirahat”?

Kita temukan sulit untuk beristirahat karena sifat alami manusia kita lebih condong pada kekuatiran dan kegelisahan. Iblis suka untuk melihat sifat alami manusia berkuasa di dalam gereja dan melihat Anda percaya bahwa Anda hanya dapat beristirahat saat segala sesuatu berjalan dengan baik atau saat Anda melihat terobosan Anda. Berhentilah berkata, “Setelah anakku lulus SMP, aku akan berhenti kuatir dan mulai beristirahat.” Tahukah Anda? Setelah selesai SMP, ada SMA. Kemudian, setelah anak Anda lulus SMA, Anda akan berkata, ”Aku pikir sepertinya saat anakku sudah lulus kuliah, maka aku akan beristirahat.” Lalu Anda tidak akan pernah beristirahat!

Saya ingin membagikan tentang dua perempuan yang menghadapi kondisi keuangan pada masa kelaparan. Naomi adalah seorang yang takut Tuhan dan inilah yang dia katakan kepada Rut, menantunya.

Rut 3:1 (KJV)
1…Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia?

Dengan kata lain, Naomi berkata kepada Rut, “Apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat peristirahatan bagimu supaya engkau berbahagia? Bukankah aneh bahwa Naomi menyebutkan peristirahatan lebih dulu? Bukankah sifat alami manusia lebih cenderung mengatakan, “Apakah tidak ada baiknya mencari hal-hal yang membahagiakan kamu, supaya kamu bisa beristirahat?”

Tetapi Allah ingin sifat alami-Nya yang berkuasa dan Dia sangat mengasihi Anda sehingga Dia berkata, “Kamu telah didudukkan di takhta. Kamu beristirahat dulu. Duduk sampai aku meletakkan semua musuh yang telah ditaklukan – situasi keuangan, gejala-gejala penyakit dalam tubuh Anda – di bawah kakimu.”

Allah ingin agar Anda menemukan peristirahatan ditengah-tengah badai. Saat Anda berisitrahat di dalam Dia, segala sesuatu akan berjalan dengan baik. Hal ini tidak berarti bahwa tidak akan ada musuh. Tetapi Anda akan memerintah di antara musuh Anda! (Mazmur 110:2)

Mazmur 23:5 berkata bahwa Allah menyediakan hidangan bagi Anda di hadapan, bukan tidak dihadapan, musuh Anda. Beberapa dari Anda mungkin berkata, “Tuhan, bagaimana mungkin Engkau suruh aku makan sekarang? Gejalanya masih ada dalam tubuhku! Rekening bank ku masih kurang! Tuhan, aku akan makan enak dan merayakannya saat semua permasalahanku telah terpecahkan.” Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak mengikuti sifat alami manusia. Allah berkata, “Aku akan menyediakan hidangan. Kamu makan dulu! Kamu makan di hadapan lawanmu, dan Aku yang akan membereskan lawanmu.”

Jangan Menunda Peristirahatan Anda

Yesaya 53 menggambarkan penderitaan Yesus dan apa yang telah Dia capai bagi kita di atas kayu salib. Dikatakan bahwa Dia telah menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita. Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh!

Alasan mengapa kita dapat beristirahat dan bersukacita di tengah musuh kita adalah karena Yesus telah mengalahkan mereka saat Dia menggantikan tempat kita dan menanggung dosa-dosa kita di atas salib. Dia telah melakukannya dan karya itu telah selesai (Ibrani 10:12-14). Kita hanya perlu memiliki sikap hidup di takhta dan beristirahat di dalam Dia.

Jadi, saat kita beristirahat dalam karya yang telah diselesaikan-Nya, seperti apakah seharusnya respon kita? Bagaimana kita mengambil bagian dari semua yang telah dilakukan Yesus? Tepat setelah Yesaya 53, kitab suci mengatakan:

Yesaya 54:1-3
1 Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN. 2 Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! 3 Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa…

Yesus telah mengalahkan musuh-musuh dan Allah berkata pada perempuan mandul untuk bersukacita! Perempuan mandul adalah gambaran dari seseorang yang belum melihat hasil, tanda-tanda kesehatan dalam tubuhnya atau tanda-tanda kelimpahan dalam situasinya. Menjadi mandul adalah gambaran dari kutuk.

Firman mengatakan bahwa Allah tidak pernah bermaksud agar kita menjadi mandul. Allah memberkati dan memerintahkan manusia untuk beranak cucu (Kejadian 9:7). Jadi dalam Yesaya 54, Allah berkata, “Bersorak-sorailah dan bersiaplah untuk berkatmu! Perluaslah kemahmu dan bersiaplah untuk bertumbuh! Jangan menghemat; perluas daerahmu dan keturunanmu akan mewarisi bangsa-bangsa.”

Bayangkan Anda adalah perempuan mandul yang bernyanyi, “Haleluya! Aku ibu banyak anak! Tuhan mengasihiku!” Iblis akan datang dan berkata kepada Anda, “Ibu banyak anak? Dimana anakmu? Bukankah kamu seorang munafik?” Tetapi jangan berhenti bergembira. Allah ingin agar anda menikmati hidup sebelum masalah Anda terpecahkan. Mulailah bernyanyi bahkan sebelum Anda melihat manifestasinya. Berhentilah menunda sukacita dan kedamaian Anda. Berhentilah menunggu hari Natal untuk mulai merayakannya. Buatlah setiap hari menjadi perayaan akan hidup, dan belajarlah beristirahat di tengah segala permasalahan Anda.

Pergi kepada Yesus untuk peristirahatan seharusnya menjadi respon harian kita. Yesus sendri mengatakan kepada kita agar datang kepada-Nya dan Dia akan memberi kelegaan (peristirahatan).

Matius 11:28
28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Kapanpun Anda berbeban berat dengan kekuatiran atau kecemasan, terbebani oleh kuk hukum Taurat atau agama, atau berada di tengah musuh yang menekan Anda, datanglah pada Yesus dan Anda akan menemukan kelegaan di dalam Dia. Bersukacitalah, duduklah dan menyangga kaki Anda keatas, karena Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan membereskan musuh-musuh Anda dan menjadikannya tumpuan kaki Anda!

 

Oleh: Joseph Prince

Joseph Prince is the senior pastor of New Creation Church — a dynamic and fast-growing church in Singapore, which has a congregation of 18,000 members. His ministry as pastor, teacher and international conference speaker focuses on unveiling Jesus and revealing His heart to the people.

Selanjutnya tentang Joseph Prince | Artikel oleh Joseph Prince