Identifikasi

Oleh: Åge M. Åleskjær
Dari: November-December 2010
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia
Apakah konsekuensi terbesar dari Kalvari bagi kita? Apakah kita telah menyadari apa yang terjadi pada saat kita mati dan dibangkitkan bersama Kristus?

Rahasia dari salib adalah bahwa Kristus mengidentifikasikan diri-Nya sendiri dengan kita dan kita menjadi satu dengan Dia. Melalui Dia yang menjadi satu bagi kita, menggantikan tempat kita, memikul dosa, penghukuman, kesalahan dan penghakiman kita, kita dapat mengidentifikasikan diri kita dengan Dia, menjadi satu dengan kebenaran, kemenangan, kemerdekaan dan kekudusan-Nya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Firman: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor 5:21)

Dia telah menjadi satu dengan dosa kita sehihngga kita dapat menjadi satu dengan Dia di dalam kebenaran.

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Rom 6:5-6)

Melalui kematian dan kebangkitan-Nya kita telah mati dan dibangkitkan. Kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Segala sesuatu telah terjadi karena Yesus menjadi satu dengan kita dimana kita telah mati bersama dengan Dia dan bangkit bersama dengan Dia.

Konsekuensi-konsekuensi dari Kalvari itu sangat besar!

Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita sehingga kita dapat menerima kesehatan-Nya (Mat 8:17).

Yesus menjadi miskin sehingga melalui kemiskinan-Nya kita dapat menjadi kaya (2 Kor 8:9).

Oleh salib Kristus dunia telah disalibkan bagi kita dan kita bagi dunia. (Gal 6:14)

Konsekuensi-konsekuensi dari Kalvari itu sangat besar!

Efek dari Penebusan

Marilah kita mengambil beberapa waktu dan melihat kedalam penebusan dan apa yang terjadi pada diri kita saat kita diidentifikasikan dengan Yesus.

Mati bagi Dosa, Hidup bagi Allah
Yesus telah mengambil dosa-dosa dunia sampai sedemikian rupa sehingga dosa-dosa tersebut sudah tidak ada lagi, dibersihkan. Akan tetapi manusia akan tetap sengsara apabila si pendosa tidak ikut diambil juga. Sebagai seorang pendosa, seseorang hidup dalam kehidupan dosa dan terus meners menghasilkan dosa-dosa baru. Dengan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat hal ini merupakan sebuah keberadaan yang membuat frustasi. Jadi solusi Alah bagi hal ini merupakan hal yang mendasar dalam Injil. Pesannya adalah bahwa kita “mati bagi dosa” saat kita “mati bersama Kristus.”

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rom 6:6)

Yesus tidak hanya telah membereskan dosa, Ia juga telah membunuh si pendosa.

Ini adalah kabar baik!  Yesus tidak hanya telah membereskan dosa, Ia juga telah membunuh si pendosa. Di dalam dia kita adalah ciptaan baru dengan sifat alami Allah di dalam kita. Kita tidak dapat berbuat dosa karena kita telah dilahirkan dari Allah (1 Yoh 3:9).

Hal ini merupakan pesan fundamental berkaitan dengan masalah ini. Bagaimanapun juga, Alkitab mengajarkan bahwa “bayi-bayi di salam Kristus” masih kedagingan dan bahwa orang Kristen masih dapat berbuat dosa. Yohanes berhadapan dengan masalah ini dan bagaimana hal tersebut dapat diatasi di dalam pasal pertama dari suratnya yang pertama. Akan tetapi hal ini haruslah tidak menghilangkan sengatan dari pesan dalam Rom 6:1-11, 1 Yoh 3:9; 5:18 dan 1 Pet 4:1-2.

Rom 6:11 berkata bahwa hendaknya kita memandang bahwa kita telah mati bagi dosa, tetapi kita hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Petrus berkata bahwa kita telah berhenti berbuat dosa (1 Pet 4:1), dan dalam permasalahan yang khusus ini Yesus menekankan bahwa “apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh 8:32-36).

Bebas dari Hukum Taurat
Dalam Kristus orang Yahudi mati terhadap Hukum Taurat, dan Kristus adalah akhir dari Hukum Taurat. Tujuan dari Hukum Taurat telah tergenapi dan kita telah bebas, bersama dengan orang-orang Yahudi yang telah lahir baru.

Hanya dia yang dimerdekakan dari hukum Taurat merdeka dari dosa.

Kemerdekaan dari hukum Taurat merupakan keharusan agar dapat hidup bebas dari dosa:
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Rom 6:14)

“Hanya dia yang dimerdekakan dari hukum Taurat merdeka dari dosa.”


Tidak Dibawah Kutuk, Tetapi Dibawah Berkat-berkat Abraham
Beberapa orang sangat merisaukan kutuk hukum Taurat. Tetapi kita tidak pernah berada di bawah hukum Taurat dan karena itu juga tidak berada di bawah kutuknya. Selain itu hal yang fantastis, pesan yang memerdekakan itu juga mengatakan bahwa orang-orang Yahudi juga merdeka. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita.” (Gal 3:13)

Beberapa orang sangat merisaukan kutuk hukum Taurat. Tetapi kita tidak pernah berada di bawah hukum Taurat dan karena itu juga tidak berada di bawah kutuknya.

Penebusan mematahkan kuk kemiskinan dan peyakit serta memimpin kita ke dalam berkat-berkat Abraham.

Dia Menjadi Miskin Supaya Kita Menjadi Kaya
“Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Kor 8:9)

Konteks dari ayat ini adalah nasihat untuk memberikan persembahan. Paulus sedang menantang mereka untuk memberi dan mengingatkan mereka tentang hal yang fantastis, bahwa Yesus – yang jauh lebih kaya dari siapapun juga – menjadi miskin bagi kita. Di atas kayu salib Ia telah dirampok dari segalanya. Dia menjadi miskin, tidak punya tempat tinggal, lapar, telanjang dan haus bagi kita, sehingga kita bisa menjadi kaya.

Allah ingin agar kita selalu memiliki kecukupan akan segala sesuatu, dan memiliki kelimpahan untuk semua kebajikan (2 Kor 9:8).

Dia menyatakan bahwa “segala sesuatu adalah milik kita!” Ini adalah hasl dari penebusan diatas salib. Ini adalah efek samping dari kita yang telah dinyatakan sebagai orang benar.

Dia Menanggung Penyakit Kita Agar Kita Menjadi Sehat
“Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:17)

Nubuatan yang dikutip dalam Mat 8:17 berasal dari Yesaya 53:4-5
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi.” (Yes 53:4-5)

Injil tentang kesembuhan ini lebih dari sekedar syafaat dan penumpangan tangan, meskipun hal itu memiliki tempat pada pelayanan orang-orang kudus. Penebusan merupakan dasar dari hidup dalam kesehatan, sebuah hidup yang bebas dari sakit dan penyakit.

Hal ini berkaitan dengan janji yang diberikan dalam Kel 23:25-26, yang berkata: “Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu” dan “Aku akan menggenapkan tahun umurmu.”

Kesehatan dan umur panjang adalah hasil dari Kalvari!

Disalibkan Bagi Dunia
“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)

Dunia telah disalibkan bagiku. Apa arti dari hal ini?
Kalvari adalah sebuah penghakiman atas dunia dan penguasanya (Yoh 12:31). Dunia telah dihakimi dan penguasa dunia telah dihakimi. Dunia telah hancur dan sampai pada akhirnya, dan penguasa dari dunia ini telah hancur dan terkutuk selamanya.

Hal ini membuat saya terhubung dengan “bentuk dari dunia ini” dengan cara yang sama sekali baru. Dalam kenyataannya, kata “dunia” disini dapat diterjemahkan “masa.” Roh yang bekerja dalam anak-anak ketidakpercayaan telah bangkrut. Pintu terhadap hal tersebut masih tetap terbuka tetapi kita bebas dari daya tarik dan tipuannya. Dunia telah disalibkan bagi kita.

Roh yang bekerja dalam anak-anak ketidakpercayaan telah bangkrut.

Akan tetapi menjadi semakin kuat saat kita mengetahui bahwa diri kita telah disalibkan bagi dunia! Dunia masih tetap sangat aktif, bahkan setelah dinyatakan bangkrut sekalipun dan tidak memiliki masa depan. Akan tetapi pada saat yang bersamaan kita telah disalibkan bagi dunia, hal itu membuat kita bebas dari kekuasaannya. Pengusasa dunia ini bukan lagi penguasa dalam dunia saya, karena kita telah dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan ke dalam kerajaan Anak yang dikasihi-Nya. Yesus-lah yang menjadi Tuhan dalam dunia kita, kita bergerak dalam Kerajaan-Nya, dan penguasa dunia ini “tidak memiliki apapun di dalam kita.” Inilah mengapa Yohanes mengatakan: “ Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” (1 John 5:18-19)

Kita telah ditebus dengan sepenuhnya dan kita telah merdeka. Kita telah keluar dari Mesir dan jauh dari Firaun dan prajurit-prajuritnya, kita telah pindah ke tanah Kanaan, sebuah tanah yang penuh dengan susu dan madu.

Dunia Adalah Milik Kita
Mungkin agak sedikit membingungkan bahwa pada saat yang bersamaan Alkitab megatakan bahwa “Dunia adalah milik kita.” Tetapi poinnya adalah bahwa kita memiliki pengertian tentang perbedaan antara “dunia” dalam hal “ilah zaman ini,” dan “dunia” seperti “dunia dan segala kepenuhannya.” Allah telah menebus kita dari ilah zaman ini dan melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan penguasa dunia ini.

Di sisi yang lain, Allah yang menciptakan dunia ini beserta segala kepenuhannya untuk dinikmati dan dikuasai oleh anak-anak-Nya. Ia tidak menciptakan segala sumber daya di bumi bagi iblis dan anak-anaknya.

Kita ditentukan untuk memerintah di dalam hidup ini

Menurut Kejadian 1 Allah ingin memberikan emas, permata, tumbuhan yang subur serta benih, sumber minyak dan seluruh kekayaan pada anak-anak-Nya.

Sekarang, berkat-berkat tersebut telah ditebus kembali bagi kita, jadi 1 Kor 3:21-23 menjelaskan bahwa segalanya adalah milik kita: dunia, kehidupan dan kematian, hal-hal yang ada sekarang dan yang akan datang. Kita telah dijadikan kaya dalam segala sesuatu.

Kita ditentukan untuk berkuasa di dalam hidup ini; kita adalah raja-raja dan imam-imam bagi Allah kita. Kristus adalah kepala – kita adalah tubuh. Segala sesuatu diletakkan di bawah kaki-Nya, artinya bahwa seluruh tubuh berada di atas semua penghulu, pemerintah dan penguasa.

Kita Didalam Dia Dan Dia Didalam Kita

Yesus berkata,
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-5)

Ini merupakan inti dari pewahyuan yang diterima Rasul Paulus. Pesannya tentang siapa kita di dalam Kristus dan siapa Kristus di dalam kita merupakan pusat syaraf dalam Kekristenan Perjanjian Baru. Rahasia yang sekarang telah disingkapkan adalah: “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” (Kok 1:27)

Identifikasi dengan Kristus ini telah dilepaskan dalam penebusan saat Yesus menjadi satu dengan dosa, penyakit dan kutuk kita, dan kita menjadi satu dengan kematian, penguburan dan kebangkitan-Nya.

Realita Dan Pengalaman – Bukan Sekedar Teori
Setelah Roh datang pada hari Pentakosta, hal ini menjadi kenyataan hidup.
“Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20)

“Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” (1 Yoh 3:24)

Pengalaman dari realita kehidupan ini datang melalui Roh Kudus. Identifikasi kita dengan Kristus secara total seperti ini:
“Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” (Kol 3:3-4)

“Tersembunyi bersama denga Kristus di dalam Allah.”
Karena itu tidaklah mudah bagi musuh untuk mencengkeram Anda. Dia harus melewati Allah dulu kemudian Kristus kemudian baru bisa menemukan Anda.

Inilah Kekristenan. Adalah menjadi seorang manusia Yesus. Menjadi satu dengan Dia

Perhatikan ungkapan: “Kristus, hidup kita.” Kita sangat menyatu dengan Kristus sehingga Dia adalah hidup kita. Dia adalah kebenaran, pengudusan dan penebusan kita.
Kita telah disalibkan dengan Kristus. Bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita (Gal 2:20).

Inilah Kekristenan. Adalah menjadi seorang manusia Yesus. Menjadi satu dengan Dia – Dia berbicara melalui mulut kita, menyentuh dengan tangan kita dan melihat melalui mata kita.

Reinhard Bonnke mengalapi saat seorang penjaga toko musik jatuh berlutut dan meminta doa saat Bonnke dan tiamnya masuk ke sebuah toko untuk membeli organ. Dia berkata, “Aku dapat melihat Yesus di matamu.” Di waktu berikutnya saat Bonnke bertanya kepada Tuhan tentang kejadian tersebut, Dia menjawab, “Aku hidup didalammu, dan kadang aku melihat melalui jendela!”

Kita seperti Dia

Kita sepenuhnya bersatu dengan Kristus. Kita ada di dalam Dia, dan Dia di dalam kita. Kesatuan ini terjadi saat Kristus datang pada kita. Dia menjadi satu dengan kita. Hal ini dimulai saat Dia menjadi manusia. Inkarnasi merupakan awal dari identifikasi Dia dengan kita.

“Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;” (Ibr 2:14)

Agar Dia mampu menyelamatkan kita, Dia harus menjadi seperti kita. Hal itu hanyalah merupakan perwakilan agar manusia dapat menyelamatkan manusia.

Hanya melalui kematian maka Dia segara legal dapat masuk Hades, itu adlaah tempat dari maut, dan iblis harus melawan di kandangnya.
Dalam pertemuan antara Yesus dengan iblis, ada banyak sekali yang tidak dapat dimengerti oleh hikmat dari dunia ini, dan yang juga tidak dimengerti oleh para teolog modern, karena hal ini hanya dapat dimengerti secara rohani.

Kita telah mati bersama dengan Dia dan dengan cara itu kita telah mati bagi dosa dan telah mati bagi dunia.

Setelah Dia turun dan menjadi manusia, Dia mengambil langkah berikutnya: Dia menjadi satu dengan dosa, penyakit dan kutuk kita. Inilah mengapa Ia harus mati di kayu salib, karena upah dosa adalah maut.

Saat harga itu telah dibayar, maka ia dapat mendirikan kebenaran yang kekal.
“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (Ibr 10:14)

Mati Bersama Dia

Inilah tempat dimana hal yang tidak dapat dipahami terjadi: Melalui Dia menjadi satu dengan kita, kita menjadi satu dengan Dia. Karena Dia menjalani kematian kita, kita juga diperhitungkan mati.  Kita telah mati bersama dengan Dia dan dengan cara itu kita telah mati bagi dosa dan telah mati bagi dunia.

Kesatuan kita dengan Dia menjadikan Dia sebagai kebenaran, pengudusan dan penebusan kita. Inilah pesannya:
“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” (Rom 6:5-8)

Tradisi telah meletakkan selubung atas kebenaran, dan selubung itu perlu untuk dibuang.

Ayat-ayat berikut ini menunjukkan bagaimana kita telah mati bersama dengan Yesus, sekali untuk selamanya dan sekarang kita hidup dalam kehidupan dimana kita telah mati terhadap dosa. Pesan ini dalam Roma 6 sangat jelas dan tidak salah. Bacalah tanpa prasangka sebelumnya. Saya pikir Anda akan mengeri bahwa pesan ini belum berakar dalam kekristenan pada saat ini. Tradisi telah meletakkan selubung atas kebenaran, dan selubung itu perlu untuk dibuang.

Duduk Bersama Dengan Dia Di Sorga

Fokus Paulus adalah pada siapa kita di dalam Kristus dan siapa Kristus di dalam kita. Dia mengatkan bahwa dia bekerja keras untuk menunjukkan setiap orang sempurna di dalam Kristus Yesus. Dasar dari rahasianya adalah tentang Kristus di dalam kita.

“Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:27-28)

Karena hal inilah yang ia fokuskan dalam pengajarannya, kita akan melihat bahwa surat Efesus penuh dengan hal tersebut. Dia berkata dalam Efesus 3:1-6 bahwa rahasia yang dinyatakan kepadanya telah dituliskan dengan singkat dalam pasal 1 dan 2. Efesus 2:4-6 adalah sebagian dari tulisan yang paling luar biasa tentang identifikasi kita dengan Kristus.

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan—dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.”

Mati bersama dengan Dia, dibangkitkan bersama dengan Dia dan didudukkan bersama dengan Dia di sorga. Kita ada dimana Dia ada dan Dia ada dimana kita ada.
“Karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.” (1 Yoh 4:17)

Hal ini sulit untuk diterima oleh mereka yang terbiasa dengan gambaran yang diberikan oleh tradisi bahwa kita adalah orang berdosa yang menyedihkan dan sengsara. Akan tetapi hal ini merupakan terang yang sederhana dan penuh kemuliaan bagi mereka yang mulai menatap pada hukum kemerdekaan yang sempurna dimana terang injil bersinar.

Berjalan Di Dalam Dia

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Karena Kristus adalah hidup kita, kita tidak membutuhkan bantuan dari hukum Taurat yang merupakan prinsip dasar dari dunia.

Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (Kol 2:6-10)

Tidak hanya keselamatan tetapi juga bagian “berjalan” yang berada di dalam Dia. Karena Kristus adalah hidup kita, kita tidak membutuhkan bantuan dari hukum Taurat yang merupakan prinsip dasar dari dunia.

“Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu!” (Kol 3:11)
Kristus adalah segalanya! Maka kita tidak butuh apapun yang lain kecuali Dia!

Oleh: Åge M. Åleskjær

Former Senior Pastor at Oslo Christian Center, now spending most of his time ministering all over Norway and internationally.

Selanjutnya tentang Åge M. Åleskjær | Artikel oleh Åge M. Åleskjær