Yesus Menantikan Kedatangan Anda

Oleh: Steve McVey
Dari: July - August 2011

Sebagian besar orang berpikir alangkah senangnya saat kita dapt bertemu Yesus muka dengan muka, tetapi apakah Anda pernah memikirkan betapa Dia sangat ingin bertemu dengan Anda?

Saat itu bulan Desember dan saya sedang berada di pedesaan, sekitar tiga jam dari Beijing, China. Suhu udara berkisar dibawah sepuluh derajat Fahrenheit. Saya dapat melihat uap napas saya di udara dingin di sebuah gudang pabrik yang telah kosong dimana saya tidur dan mengajar Alkitab pada saat saya masih berada di daerah yang diserang oleh kemiskinan ini.

Lima belas orang duduk melingkar di sekitar saya, satu persatu harus menyelinap kedalam ruangan agar tidak terdeteksi oleh polisi. “Apakah kamu tidak takut masuk penjara?” tanya salah satu orang percaya. “Kalau kamu?” tanya saya. Merupakan sebuah tidakan ilegal bagi orang Kristen di China untuk berkumpul seperti yang sedang kami lakukan dan kami semua tahu akan hal tersebut. Akan tetapi orang-orang percaya ini sangatlah lapar akan pengajaran Alkitab sehingga mereka mau mempertaruhkan nyawa mereka untuk bisa menghadiri pendalaman Alkitab.

Seorang ibu tua bernyanyi kepada Yesus
Pada hari itu saya telah mengajar selama empat belas jam. Sekarang hari telah menjadi malam. Kami telah berdoa dan orang-orang Kristen yang bersama-sama dengan saya telah menyanyikan lagu-lagu himne dalam bahasa China, mempersembahkan pujian bagi Tuhan karena kebaikanNya. Tiba-tiba saat seorang ibu tua berumur 87 tahun mulai menyanyi, terjadilah keheningan di ruangan itu dan semua orang berdoa di dalam hati.

Sebelumnya saya sudah bercakap-cakap dengan dia melalui penterjemah saya dan saya mengetahui kisah pribadinya. Ia dan suaminya telah terpisah pada saat terjadi perang di China lebih dari tiga puluh tahun sebelumnya. Pada saat para tentara Jepan dan China bertempur disekitarnya, ia bersembunyi di pojok sebuah gedung. Tetangga-tetangga di sekitarnya semunya tewas terbunuh, tetapi semua tentara itu melewatkan dia, tampaknya tidak ada satu pun yang memperhatikan keberadaannya.

Pada akhirnya suara tembakan berhenti dan semua tentara meninggalkan tempat itu. Ia mengatakan bahwa pikiran pertama yang masuk dalam benaknya adalah, “Pasti ini karena Tuhan karena tidak ada penjelasan lain mengapa saya bisa selamat dari apa yang baru saja terjadi. Aku mau mengenal Tuhan ini.” Sepuluh tahun berlalu sebelum ia mendengar tentang ibadah gereja bawah tanah di dekat tempat tinggalnya. Dengan menggandeng anak perempuannya, ia berkata, “Mari kita pergi ke gereja ini dimana kita bisa bertemu dengan Tuhan yang menyelamatkan nyawaku sepuluh tahun yang lalu.” Kemudian mereka pergi ke gereja rumah pada hari itu dan disana ia bertemu dengan Yesus Kristus.

Sekarang disinilah saya, dua puluh tahun sesudahnya, duduk di dalam sebuah pabrik yang ditinggalkan dimana secara sembunyi-sembunyi dipakai untuk tempat tinggal sebuah keluarga. Saya telah mengajarkan tentang keintiman dengan Kristus, tetapi ibu tua berumur 87 tahun ini membuat pengajaran yang saya ajarkan menjadi semakin nyata bagi saya. Dia menutup matanya dan mulai menyanyi.

Lagu yang ia nyanyikan begitu lembut dan manis, dalam bahasa Mandarin. Pada saat ia menyanyi, air mata mulai menuruni pipinya yang telah keriput, membasahi senyumnya yang lebar. Saya tidak dapat mengerti kata-kata yang ia nyanyikan tetapi saya sadar bahwa ia secara literal memancarkan kasih Yesus Kristus. Tiba-tiba saya merasakan manifestasi kehadiran Allah yang luar biasa.

Saya tidak dapat menahan air mata saya, dan saat saya melihat ke seluruh ruangan saya melihat orang-orang yang lain juga menangis. Saya melihat kembali orang kudus ini yang saat ini sepertinya sedang berada di dunianya sendiri, tampak jelas sekali dihadapan kami yang ada di dalam ruangan itu. Sangat jelas sekali – ia tidak menyanyi bagi kami. Ia menyanyi bagi Yesus.

“Setiap hari Dia menanti kedatangan saya ,”

Dalam beberapa saat berikutnya, ia menyelesaikan nyanyiannya dan keheningan yang kudus memenuhi ruangan. Ia berhenti sebentar dan kemudian membuka matanya dan melihat saya. ”Setiap hari Dia menanti kedatangan saya,” kata nya sambil tersenyum lebar dengan pipi yang basah. Saya merasa seperti seorang anak kecil yang sedang diajari sebuah pelajaran yang belum pernah diterima. Sambil memandang dia melalui mata yang basah, saya tersenyum dan mengangguk perlahan.

Yesus sangat menantikan untuk bertemu mempelainya, “Dia sangat menantikan kedatangan saya.” Pernahkan Anda berpikir demikian? Sebagian besar orang berpikir tentang betapa bahagianya bila kita nanti bertemu Yesus Kristus muka dengan muka, tetapi pernahkah Anda membayangkan betapa rindunya Dia untuk bertemu dengan Anda? Dalam Perjanjian Baru kita disebut sebagai mempelai wanita Kristus. Suatu hari nanti Dia akan datang dan kita akan dipersatukan dengan Dia dalam pernikahan yang kekal. Yesus berkata,

Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada (Yohanes 14:2-3)

Suatu hari nanti kita akan mendengar bunyi undangan diserukan diseluruh jagat raya, “Mempelai datang! Songsonglah dia!” (Lihat Matius 25:6) Pada saat itu, Anda akan melihat Dia yang gairahnya begitu besar pada Anda sampai Dia berpikir lebih baik mati daripada hidup tanpa Anda.

Oleh: Steve McVey

Dr. Steve McVey is a dynamic author and speaker who inspires Christians to develop a deeper, more intimate relationship with God.

Selanjutnya tentang Steve McVey | Artikel oleh Steve McVey