Mengetahui identitas Anda yang SEJATI

Oleh: Mary Felde
Dari: October - November 2012
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia

Beberapa teman baik saya telah menjadi misionaris selama bertahun-tahun. Mereka pergi ke ladang misi saat anak-anak mereka masih kecil. Suatu hari seluruh anggota keluarga diwawancarai di atas panggung di Gereja asal mereka. Seorang pendeta bertanya pada salah satu anak laki-laki tentang apa cita-citanya bila dewasa nanti. “Apakah kamu ingin menjadi seorang misionaris?” Jawaban anak kecil itu lantang dan tanpa keraguan, “Kamu tidak bisa ingin menjadi sesuatu yang sudah menjadi jati dirimu!” Identitasnya telah kokoh - dia adalah seorang misionaris!

Dalam Lukas 15 kita temukan kisah tentang seorang ayah yang memiliki dua anak laki-laki. Anak yang bungsu membuat banyak pilihan buruh dan arah hidupnya mengarah pada arah yang salah. Saat ia kembali pulang ke ayahnya, dia sudah siap untuk melamar menjadi seorang hamba disana, karena dia berpikir kesempatan agar tetap dipanggil sebagai anak telah hancur. Identitasnya telah hancur di matanya sendiri! Akan tetapi, identitas itu TIDAK berubah di mata ayahnya. Perilaku salah dari anak itu tidak merubah ayahnya!

Dalam kisah yang sama kita melihat anak yang sulung juga memiliki identitas yang salah. Dia menampilkan perbuatan baiknya sebagai seorang hamba yang setia sebagai alasan agar ia layak menerima berkat-berkat dari ayahnya. Tetapi tanpa ragu ayahnya meresponi dia, “ANAKKu, kamu selalu bersamaku, dan semua milikku adalah milikmu.” Dia tidak menyebutnya sebagai seorang hamba tetapi seorang ANAK!

Misionaris kecil telah memahami identitasnya - hasil dari menjadi anak dari orangtuanya. Tidak seorangpun dari kedua anak dalam Lukas 15 telah memahami identitas mereka yang sejati dan bagaimana cara pandang ayahnya terhadap mereka. Kita tidak dapat berusaha agar menjadi sesuatu yang sudah menjadi jati diri kita ataupun layak menerima karunia-karunia yang sudah kita miliki.

Oleh: Mary Felde

Mary Felde is a missionary and worldwide speaker of the Word of God. She has thought in churches, seminars, conferences, and Bible schools on four continents.

Selanjutnya tentang Mary Felde | Artikel oleh Mary Felde