Belajar Untuk Hidup Dengan Ketidaksempurnaan

Oleh: Steve McVey
Dari: January - February 2013
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia
Saat kita melakukan hal-hal yang tidak sempurna, dengan mudah kita dapat menyalahkan diri kita sendiri. Tetapi, apakah Allah mengharapkan untuk menemukna kesempurnaan dalam segala sesuatu yang kita lakukan?

Kita semua memiliki sebuah idealisme dalam pikiran kita berkaitan dengan hal-hal yang kita lakukan di dalam hidup. Kita telah diajarkan untuk bertanggung jawab akan apa yang kita lakukan dan berusaha keras untuk meraih hasil yang unggul. Tidak ada yang salah dengan filosofi kehidupan tersebut. Itu merupakan hal yang terpuhi dan berperan sebagai garis dasar yang baik bagi segala sesuatu yang kita lakukan.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, ada garis pemisah antara bertanggung jawab dan menjadi seorang yang perfeksionis akan apa yang kita lakukan. Seorang dapat bertanggung jawab dan mengenali tugas yang dilakukan dengan baik tanpa harus menjadi sempurna. Orang yang perfeksiones selalu melihat kekurangan pada tugas yang telah diselesaikan, sekalipun bila hal tersebut tidak cukup penting dan tidak akan diperhatikan oleh orang lain.

Sesuaikan idealisme Anda

Bahkan Allah tidak memandang gaya hidup Anda dan mengharapkan untuk menemukan kesempurnaan dalam segala sesuatu yang Anda lakuan.

Kadang diperlukan agar seseorang menyesuaikan idealismenya pada tingkatan yang lebih realistis berkaitan dengan kemampuan yang sebenarnya ia miliki. Hal-hal dapat menjadi baik, bahkan unggul, tanpa harus menjadi sempurna. Belajar untuk hidup dengan kurang dari sempurna penting bagi kedamaian pikiran karena tidak seorangpun bisa mencapai kesempurnaan.

Bahkan Allah tidak memandang gaya hidup Anda dan mengharapkan untuk menemukan kesempurnaan dalam segala sesuatu yang Anda lakuan. Pemazmur menuliskan, “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Mazmur 103:14). Dengan kata lain: Allah tahu bahwa Anda hanyalah manusia. Apakah Anda mengetahui hal itu atau Anda menempatkan harapan pada diri Anda sendiri untuk menjadi manusia super dan kemudian merasa frustrasi saat Anda melihat diri Anda bukan manusia super?

Seorang yang berjalan dalam kasih karunia adalah orang yang menemukan kepuasan setelah melakukan yang terbaik, mengingat keterbatasan hidup yang ada pada dirinya. Saat Allah selesai mencipta, Ia melihat apa yang telah Ia selesaikan dan berkata, “Semuanya itu baik.” Ia ingin agar Anda mampu berkata hal yang sama tentang apa yang Anda lkukan. Faktanya, mampu berkata demikian merupakan kualitas ilahi.

Apakah benar-benar menjadi masalah bila beberapa hal tidak terselesaikan atau tertunda? Apakah sebanding bila harus mengorbankan ketenangan pikiran, stabilitas emosional dan kelelahan secara fisih agar dapat mencapai semuanya? Apakah hal itu benar-benar sangat berharga bila kita letakkan sudut pandang pada gambaran yang lebih besar? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dengan serius.

Belajar untuk hidup dengan hasil-hasil yang kurang dari sempurna mungkin merupakan sebuah ketrampilan yang ingin diajarkan Roh Kudus pada Anda.

Belajar untuk hidup dengan hasil-hasil yang kurang dari sempurna mungkin merupakan sebuah ketrampilan yang ingin diajarkan Roh Kudus pada Anda. Di lain kesempatan saat Anda melihat suatu pekerjaan yang telah selesai dan tergoda untuk mengutak-atik dan menilainya melalui lensa perfeksionisme, jangan kaget bila Anda mendengar Ia berkata, “Biarkan saja. Itu sudah baik.” Saat Anda mendengar suara yang lembut itu, dengarkan dan lakukanlah. Dalam jangka pajangnya, Anda akan menemukan kasih karunia akan kepuasan dan bukannya rasa bersalah dari hukum yang kita kenakan sendiri yang mendakwa Anda akan ap yang telah Anda selesaikan.

(Artikel ini adalah kutipan dari buku terbaru Steve McVey’s, Wives Walking In Grace, yang akan diterbitkan pada tahun 2013 oleh Harvest House Publishers)

Oleh: Steve McVey

Dr. Steve McVey is a dynamic author and speaker who inspires Christians to develop a deeper, more intimate relationship with God.

Selanjutnya tentang Steve McVey | Artikel oleh Steve McVey