Belajar untuk Menerima Kasih Allah

Oleh: Steve McVey
Dari: March-April 2012
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia
Kita semua ingin mengalami kasih Allah. Tetapi bagaimana kita dapat belajar untuk menerima lebih lagi dari kasih-Nya kepada kita?

Setiap hari saya mempraktekkan latihan rohani berikut ini dan saya temukan hal ini merupakan cara yang luar biasa untuk secara sadar mengalami kasih Allah. (Latihan ini diambil dari buku saya, The Godward Gaze.) Saya harap hal ini akan menguatkan Anda dalam persekutuan Anda setiap hari dengan Bapa yang penuh kasih.

Duduk tenang dan fokuskan perhatian Anda pada Yesus Kristus

Lawanlah keinginan untuk segera menggunakan kata-kata untuk berdoa. Arahkan pikiran Anda pada kasih yang dimiliki Bapa Sorgawi bagi Anda. Tolaklah segala pikiran analitis tentang apa yang seharusnya dicapai pada saat itu. Bukan tergantung pada Anda untuk mencapai sesuatu. Arahkan hati Anda kepada-Nya dalam penundukan yang tenang dan tunggulah.

Arahkan hati Anda kepada-Nya dalam penundukan yang tenang dan tunggulah.

Jika kelihatannya Anda tidak mengalami apa-apa, jangan menjadi kecil hati. Jika pikiran Anda cenderung untuk mengembara, ingatlah bahwa hal itu sepenuhnya nornal bagi orang yang jarang melakukan saat teduh dalam dirinya sendiri disepanjang hidupnya. Perlahan-lahan bawalah fokus Anda kembali ke tengah, pada Yesus Kristus.

Dengarkan dorongan lembut dari Roh Kudus

Meskipun benar bahwa Anda tidak memiliki agenda untuk berdoa secara kontenpelatif melainkan hanya mengarahkan perhatian Anda kepada-Nya, Roh Allah secara lembut dapat menuntun pikiran Anda pada berbagai macam area dalam kehidupan Anda dimana Dia ingin bertindak didalamnya. Dia mungkin akan membuat Anda untuk mengekspresikan doa untuk diri Anda sendiri ataupun bagi orang lain dengan menggunakan perkataan. Akan tetapi, mungkin juga saat itu menjadi waktu dimana tidak perlu menyampaikan permohonan Anda dalam bentuk kata-kata.

Kadang Anda akan menemukan diri Anda sekedar menyadari akan sebuah kebutuhan dan secara mental mengangkat kebutuhan itu dan meletakkannya di kaki Yesus, tanpa mengucapkan sepatah kata baik secara mental ataupun verbal. Jika Anda tidak tahu apa yang harus dikatakan, maka jangan katakan apa-apa. Nyatakan saja permintaan Anda kepada Dia dengan membayangkan bahwa Anda meletakkannya dihadapan-Nya.

Gunakan imajinasi yang dikuduskan untuk menikmati kasih dari kekasih ilahi

Penekakan dari Gerakan New Age tentang visualisasi telah menyebabkan banyak orang Kristen menjadi takut dalam menggunakan imajinasi mereka dalam hubungan dengan Allah. Akan tetapi, imajinasi dari orang percaya merupakan alat yang kuat untuk mengalami keintiman dengan Dia. Sangat tragis bahwa banyak orang percaya memandang imajinasi sebagai tempat kerjanya musuh. Jika musuh dari jiwa kita selalu siap untuk menggunakan imajinasi kita, maka pastinya tidak pantas bila kita menyandarkannya pada Roh Kudus agar memakainya untuk kemuliaan Allah. Jangan biarkan penyalahgunaan dari sebagian orang membuat Anda melewatkan nilai dari imajinasi.

Beberapa orang menemukan sangat membantu bila membayangkan diri mereka dipegang erat dalam tangan Bapa Sorgawi, membayangkan Dia memeluk mereka dengan pelukan yang erat. Sebagian orang lainnya membayangkan dirinya duduk di pangkuan-Nya seperti seorang anak kecil. Mereka membayangkan Dia memandang mata mereka dengan tatapan penuh kasih.

Mereka membayangkan Dia memandang mata mereka dengan tatapan penuh kasih.

Ada banyak skenario imajinasi yang telah ditemukan sangat membantu bagi orang percaya. Mintalah pada Roh Kudus untuk mengajarkan Anda bagaimana mengkombinasikan imajinasi Anda dengan iman alkitabiah untuk mengalami perasaan keintiman yang lebih dalam dengan Allah.

Cobalah latihan sederhana ini sebagai sebuah contoh dalam menggunakan imajinasi Anda. Saat Anda membaca beberapa paragraf berikut ini, perlambatlah proses berpikir Anda. Jangan cepat-cepat menyelesaikan membaca seperti Anda sedang dalam misi untuk secepatnya menyelesaikannya. Gunakan imajinasi Anda dan lihatlah dengan iman apa yang digambarkan paragraf-paragraf berikut ini.

Bayangkan saat ini Yesus berjalan masuk ke ruangan Anda. Dia berjalan masuk dan kemudian berdiri tepat di depan Anda. Dia mengulurkan tangan-Nya dan meletakkannya melingkupi Anda dan kemudian menarik Anda mendekat kepada-Nya untuk memeluk Anda.

Santai. Tenangkan pikiran Anda yang sibuk. Beristirahatlah dalam pelukan-Nya. Dengan lembut Dia menekankan wajah-Nya di wajah Anda dan kemudian berbisik lembut di telinga Anda, “Aku sangat mengasihi kamu. Tahukah kamu betapa Aku sangat bangga akan kamu? Aku mengasihi kamu lebih dari apa yang dapat kamu bayangkan. Sh-h-h. Tenanglah dan ketahuilah bahwa Aku mengasihi kamu.” Dengarkan Dia. Tunggulah sampai Anda merasakan ketenangan dalam hati. Mintalah Dia untuk mengatakan kata-kata personal, hanya untuk Anda. Dengar. Apakah Anda mendengarkan suara-Nya? Tetaplah disini, di tempat yang sepi dan tenang ini dan biarkan Dia mengekspresikan kasih-Nya.

Tetaplah disini, di tempat yang sepi dan tenang ini dan biarkan Dia mengekspresikan kasih-Nya.

Tunggu – sampai Anda tahu sudah waktunya untuk kembali ke aktifitas normal. Bersenang-senanglah dalam kasih-Nya. Jangan terburu-buru saat melakuka latihan ini.

Apakah Anda merasa nyaman dengan latihan yang saya gambarkan dalam paragraf diatas? Adalah sesuatu yang tidak alkitabiah tentang apa yang saya gambarkan? Apakah ada yang tidak benar tetang skenario diatas? Yesus memang mengasihi Anda seperti yang saya gambarkan. Dia memang memeluk Anda dengan tangan-Nya dan rindu mengekspresikan kasih-Nya kepada Anda dengan cara yang penuh arti. Saya tidak meminta Anda untuk berpura-pura, akan tetapi oleh iman melihat sesuatu yang nyata melalui mata pikiran Anda.

Jangan merasa tidak nyaman dengan keintiman semacam itu. Kadang para pria protes bahwa latihan semacam itu rasanya tidak alami buat mereka. Mereka memang benar. Hal ini tidak alamiah. Hal ini supranatural. Santai saja. Ini bukan permasalahan jenis kelamin. Ini adalah tentang belajar untuk santai dalam pelukan Bapa yang penih kasih dengan cara yang sama yang Anda rindukan bersama dengan bapa jasmani Anda saat Anda masih kecil. Sekalipun ada nilai-nilai budaya kontemporer, pria tidak kehilangan kebutuhan akan kasih sayang. Jika tidak nyaman bagi Anda, latihlah kesadaran hadirat kasih-Nya sampai hal itu menjadi suatu hal yang nyaman.

Bila secara umum Anda tidak melihat diri Anda sebagai orang penuh kasih, mintalah Roh Kudus untuk memperbarui pikiran Anda pada fakta bahwa Bapa Sorgawi Anda adalah Pribadi yang penuh kasih. Anda dapat belajar untuk menerima dari Dia, Anda akan didorong untuk menemukan betapa mudahnya bagi Anda untuk memberikannya pada orang lain, orang-orang yang telah begitu lama membutuhkan kasih sayang Anda.

Oleh: Steve McVey

Dr. Steve McVey is a dynamic author and speaker who inspires Christians to develop a deeper, more intimate relationship with God.

Selanjutnya tentang Steve McVey | Artikel oleh Steve McVey