Hidup bebas dari rasa bersalah dan rasa malu

Oleh: Peter Youngren
Dari: June-July 2012
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia
”Menjadi benar dihadapan Allah” merupakan sebuah dilema bagi banyak orang Kristen. Kapan saya bisa cukup baik? Yesus menceritakan sebuah kisah tentang dua orang laki-laki yang memiliki pendekatan yang sangat berbeda tentang hal ini.

Setelah saya mempersiapkan untuk menulis artikel ini, saya membuka internet dan mulai mencari tentang “rasa bersalah dan rasa malu.” Saat saya melihat semua tautan artikel yang muncul, hal yang menarik adalah hanya ada satu tautan rohani di dua puluh besar hasil pencarian, dan hal itu tidak menyebutkan tentang Injil Kristus. Artikel tersebut merupakan sebuah analisis bahwa kemungkinan seseorang bisa terlibat dalam suatu huru-hara adalah karena digerakkan oleh rasa bersalah dan rasa malu. Menurut artikel tersebut, menurut Google, siapakah kelompok yang tertarik pada topik tentang rasa bersalah dan rasa malu? Jurnal-jurnal psikologi, studi-studi tentang sukses dan kepemimpinan, bahkan artikel-artikel pengasuhan anak memperhatikan bagaimana para orang tua mungkin tidak akan dapat mendidik anak-anak mereka dengan baik karena rasa bersalah dan rasa malu dalam hidup mereka. Semua artikel yang ada berusaha untuk membantu orang agar sukses dalam hidupnya, dan semuanya sangat memperhatikan bagaimana rasa bersalah dan rasa malu menjadi penghalang.

Jelas sekali bahwa dunia sekuler menyadari betapa pentingnya topik ini. Mereka menyadari bahwa rasa bersalah dan rasa malu dapat merintangi kemakmuran, kesuksesan dan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Akan tetapi jawaban yang sejati bagi rasa bersalah dan rasa malu bukanlah pada metode menolong diri sendiri, tetapi terletak dalam Injil kasih karunia Allah.

Apa itu rasa bersalah dan rasa malu?

Rasa bersalah adalah perasaan negatif karena sesuatu yang pernah kita lakukan, atau yang kita pikir telah kita lakukan. Rasa malu jauh lebih mendalam. Hal itu berkaitan dengan pada intinya kita memandang diri kita sendiri seperti apa. Rasa malu merupakan pertanyaan dari sifat alami kita. Saat manusia didominasi oleh rasa bersalah dan rasa malu, ada berbagai macam efek dan perilaku negatif yang dihasilkan:
1. Menjatuhkan orang agar secara tidak sadar mengangkat diri kita sendiri.
2. Menjadi seorang yang perfeksionis agar menghindari segala sesuatu yang akan menimbulkan dan menambah perasaan negatif tentang diri kita sendiri.
3. Mencari posisi dan jabatan tinggi serta mengharapkan pengakuan saat orang lain melihat hal-hal yang bisa kita capai diluar.
4. Menyalahkan orang lain agar daftar kelemahan diri sendiri tidak bertambah.
5. Menjadi “alas kaki,” membiarkan pelecehan orang lain, agar membuat diri kita lebih berharga dari orang lain.
6. Perilaku terparah yang dihasilkan oleh rasa malu adalah mundur, menarik diri dari orang lain, bersembunyi dan tidak mampu untuk melindungi.

Mekanisme-mekanisme tersebut memang baik untuk sementara waktu tetapi pada akhirnya semua itu akan menimbulkan rasa bersalah dan rasa malu yang semakin besar.

Orang Farisi dan Pemungut Cukai

Yesus menceritakan kisah tentang dua orang laki-laki, masing-masing mereka dibebani dengan rasa bersalah dan rasa malu: “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.” [Luk 18:9-14]

Manusia memiliki perasaan bawaan bahwa mereka tidak berkenan terhadap Allah, dan mereka pergi ke suatu tempat untuk “membuat segala sesuatu bisa benar dengan Allah.”

Sama kunonya seperti di Taman Eden – dua orang manusia pergi ke tempat berusaha berkenan dihadapan Allah. Hal ini juga berlanjut di dunia Kristen, dunia Hindu, dan dunia Muslim. Manusia memiliki perasaan bawaan bahwa mereka tidak berkenan terhadap Allah, dan mereka pergi ke suatu tempat untuk “membuat segala sesuatu bisa benar dengan Allah.” Orang Kristen Injili tahu segala sesuatu berkaitan tentang “membuat pemberesan dengan Allah” akan tetapi setelah melakukan segala usaha, ketidakamanan itu tetap ada.

Kedua orang tersebut adalah orang percaya, kalau tidak mereka tidak akan pergi ke bait suci. Mereka tulus dalam cara mereka sendiri, tetapi mereka keduanya tetap tidak cukup; tidak mampu membuat diri mereka menjadi benar dan dibenarkan.

Menyombongkan diri sendiri

Orang Farisi menghampiri Allah berdasarkan tiga kriteria: apa yang ia lakukan, tidak ia lakukan dan apa yang dilakukan orang lain. Dia meninggikan dirinya sendiri dalam hal aktifitas rohani dan dengan cara membandingkan dirinya dengan dosa-dosa orang lain. Banyak orang memiliki pola pemikiran seperti ini, banyak orang Kristen juga demikian. Tentu saja saat Anda menemukan tentang kasih karunia Allah seluruh konsep ini menjadi berbalik arah. Itulah yang terjadi pada rasul Paulus, yang menulis bahwa apa yang sebelumnya adalah “keuntungan” menjadi suatu “kerugian” dan yang dulunya dia anggap sebagai hal berharga sekarang menjadi “sampah” (Fil 3:8).

Musuh paling berbahaya bagi Injil adalah praktek-praktek keagamaan yang tulus yang membuat orang menganggap bahwa Allah berkenan pada mereka berdasarkan pada aktivitas-aktivitas kerohanian mereka.

Banyak orang memiliki ide bahwa sepanjang mereka tulus, hal itu sudah cukup, tetapi Paulus memberitahu kita bahwa sekalipun ia tulus dan bersemangat, hal itu tetap diperhitungkan menentang dirinya. Nilai lebih yang dicapainya tidak hanya berubah menjadi nol; semua itu membawanya pada posisi minus. Agama yang tulus yang diikutinya malah menipu dirinya, karena membuat ia berpikir bahwa dirinya merupakan sesuatu yang sebenarnya bukan dirinya yang sejati. Musuh paling berbahaya bagi Injil adalah praktek-praktek keagamaan yang tulus yang membuat orang menganggap bahwa Allah berkenan pada mereka berdasarkan pada aktivitas-aktivitas kerohanian mereka. Orang Farisi dalam kisah Yesus sepenuhnya gagal dalam usahanya untuk dapat “berkenan kepada Allah.” Dia pulang ke rumahnya dengan tetap memiliki rasa malu dan rasa bersalah seperti sebelumnya. Mari kita perhatikan sejenak apa yang ditunjukkan orang ini tentang segala sesuatu yang telah dicapainya:

Bisakah kita menyalahkan seorang yang bukan perampok?
Bukan orang lalim?
Bukan pezinah?
Bagaimana mungkin seorang yang berpuasa, berdoa, membayar persepuluhan dan pergi ke sinagog menjadi sebuah peringatan dan merupakan sebuah contoh tentang kegagalan? Bukankah seharusnya orang semacam ini malah menjadi contoh tentang kesalehan yang harus kita teladani? Menurut Yesus tidak.

Ada satu hal yang mengisyaratkan sesuatu yang sangat salah. Orang Farisi itu memulai dengan mengatakan “Aku tidak sama seperti semua orang lain.” Kitab suci memberikan daftar tujuh kekejian, dan yang pertama adalah ”mata sombong” atau ”sikap sombong” (Ams 6:17). Sikap berlagak – berpikir bahwa Anda lebih baik dari orang lain – menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat salah.

Pada saat orang Farisi tersebut mengatakan “Aku tidak sama seperti semua orang lain,” pada intinya dia bersalah karena melanggar Sepuluh Perintah Allah, karena pada akhirnya Sepuluh Perintah Allah merupakan sebuah ekspresi kasih Allah, menggambarkan sebuah hubungan kasih antar manusia – tidak ada menyombongkan diri.

Dilema dari orang Farisi dalam kisah Yesus dan dilema dari semua agama adalah: “Kapankah akan cukup?

Jika kita mengasihi sesama, kita tidak mengingini milik orang lain dan kita tidak berkata jahat tentang mereka. Hukum Taurat itu kudus dan adil, tetapi kesalahan yang dibuat oleh orang Farisi adalah bahwa mereka menjadikan perintah-perintah tersebut sebagai jalan keselamatan. Bukan itu maksudnya, karena keselamatan yang sejati hanya datang oleh kasih karunia dan kemurahan Tuhan Yesus Kristus. Sementara sebelumnya orang Ibrani dibenarkan dengan cara mempersembahkan korban yang memandang kedepan pada pengorbanan tertinggi yang dilakukan Yesus di atas kayu salib, kita menerima anugerah kebenaran dengan melihat kebelakang pada salib.

Dilema dari orang Farisi dalam kisah Yesus dan dilema dari semua agama adalah: “Kapankah akan cukup? Kapan aku cukup baik? Sudahkah aku cukup berpuasa? Sudahkah aku cukup berdoa? Sudahkah aku cukup membaca kitab suci?”

Kapankah cukup itu cukup?

Jika kita bersandar pada pengamatan luar, selalu saja ada “satu hal yang kurang,” dan kemudian sama seperti orang Farisi, kita terus dibebani dengan rasa bersalah dan rasa malu. Inilah perbedaannya: Saat metode orang Farisi untuk “berkenan dihadapan Allah” adalah dengan cara membandingkan dirinya sendiri dengan pemungut cukai, si pemungut cukai hanya memandang Allah dan kemurahan-Nya.

Telanjang dihadapan Allah

Siapakah si pemungut cukai ini? Dia adalah seorang penipu profesional, seorang bertipe Mafia yang tinggal di rumah besar di tengah kota dan mengumpulkan uang dengan cara menjadi seorang pemeras.

Bisakah Anda melihat perbedaan kontras disini? Di satu sisi, dalam kisah Yesus, Anda melihat ada seorang Farisi yang kelihatannya sangat rohani, dan di sisi lain Anda melihat seorang penjahat terburuk di kota itu. Kebenaran dari kisah ini adalah tidak peduli seperti apapun orang Farisi itu membanggakan diri, orang yang sebenarnya dapat membanggakan diri adalah si pemungut cukai karena paling tidak dia tahu bahwa satu-satunya harapannya adalah Allah. Dia tahu bahwa dirinya bukan apa-apa dan dia berada dalam masalah, dan dalam hal itu ia lebih baik dibanding orang Farisi.

Orang Farisi berkata, “Oh aku,” sedangkan pemungut cukai berkata, “Oh Tuhan.”

Orang Farisi berkata, “Oh aku,” sedangkan pemungut cukai berkata, “Oh Tuhan.” Orang Farisi berkata, “Tuhan, bertindaklah bagiku sesuai dengan apa yang sudah aku lakukan,” sementara pemungut cukai berkata, “Tuhan, bertindaklah bagiku sesuai dengan diriMu yang sebenarnya.” Orang Farisi berdiri di bait Allah dengan daftar pencapaiannya, sedangkan pemungut cukai berdiri telanjang dihadapan Allah. Sama seperti ia sedang berkata, “Oh Tuhan, Engkau tahu segalanya, aku tidak mampu menyebutkan semua kesalahanku; aku mohon kemurahan-Mu.”

Setelah Adam terpisah dengan Allah di taman, dia merasa malu saat menemukan dirinya telanjang. Sama seperti seseorang tidak merasa malu pada saat mandi, sebenarnya bukan ketelanjangan yang membawa rasa malu pada Adam, tetapi karena ada seseorang – Allah – dapat melihat dia. Sehingga ia menyematkan daun pohon ara untuk menutupi siapa dirinya yang sesungguhnya, menyembunyikan rasa bersalah karena perbuatan yang telah ia lakukan, dan rasa malu tentang jati dirinya. Sama seperti yang terjadi pada orang Farisi, penutup itu tidak berfungsi, dan rasa bersalah serta rasa malu Adam berkelanjutan.

Saat ini banyak orang yang berusaha menutupi rasa malunya dengan serangkaian pencapaian dan kebenaran pribadi, namun hasilnya sama suramnya. Orang pergi ke gereja untuk mendapatkan perasaan lega sementara dari penghukuman, tetapi sama seperti orang Farisi, saat mereka pulang, mereka masih sama bersalah dan malu seperti saat datang. Berlawanan dengan hal itu, pemungut cukai mewakili orang-orang yang tidak memiliki apa-apa untuk menutupi dirinya – tidak memiliki alat untuk membenarkan dirinya sendiri. Dia meminta agar Allah bertindak kepadanya berdasarkan pengorbanan kasih. Dia tahu bahwa ia membutuhkan kemurahan Allah dan ia pulang kerumahnya dalam kondisi dibenarkan.

Saat ini banyak orang yang berusaha menutupi rasa malunya dengan serangkaian pencapaian dan kebenaran pribadi, namun hasilnya sama suramnya.

Bagaimana Allah bisa membenarkan orang yang jahat namun tetap bertindak adil?

Karena ada hukum yang melampaui dan menggantikan Hukum Taurat Musa dan segala macam hukum yang ditemukan dalam agama. Hukum ini sebelum waktu dimulai mengatakan bahwa Allah dapat bertindak adil dan mengasihi pada saat yang bersamaan. Bagaimana? Jika Allah memilih untuk datang dan menanggung penghukuman, rasa malu dan rasa bersalah dari seluruh umat manusia keatas diri-Nya sendiri, maka dosa akan terbayar dan kasih akan didemonstrasikan. Itulah Injil – bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang disembelih bagi dosa-dosa dunia sebelum dunia dijadikan.

Sebuah Ras Baru

Hukum kasih ini sekarang berlaku di dalam Yesus Kristus. Sebagai Adam terakhir dia telah menciptakan suatu ras baru dimana semua dosa telah diselesaikan, semua kesalahan telah ditebus dan semua hutang telah dibayar lunas untuk selamanya.

Kebenaran ini digambarkan dalam kisah dari Daud dan Goliat. Goliat berkata bahwa dia berdiri mewakili seluruh bangsa Filistin dan bangsa Israel dapat memilih perwakilan mereka. Daud menjadi orang tersebut. Hal itu sebenarnya mengatakan bahwa semua orang Filistin ada di dalam Goliat dan semua orang Israel ada di dalam Daud.

Sebagai Adam terakhir dia telah menciptakan suatu ras baru dimana semua dosa telah diselesaikan, semua kesalahan telah ditebus dan semua hutang telah dibayar lunas untuk selamanya.

Apapun yang terjadi pada Goliat juga akan terjadi pada orang Filistin. Jika Goliat menang maka orang Filistin menang. Jika kepalanya dipenggal maka semua orang Filistin kepalanya juga dipenggal. Jika Daud menang, seluruh Israel menang. Jadi inilah gagasan tentang satu orang dapat mewakili semua orang. Injil adalah bahwa Allah di dalam Kristus memperdamaikan dunia dengan diriNya sendiri [2 Kor 5:19]. Yesus membawa seluruh dosa bersama diriNya ke atas kayu salib, sehingga kemenagan-Nya bisa menjadi kemenangan semua orang. Tidak ada agama di dunia yang dapat menciptakan hal itu.

Orang-orang Injili fundamentalis, khususnya, memiliki permasalahan dengan hal ini, “Kira-kira aku berkenan dihadapan Tuhan atau tidak?” Lupakanlah. Hal itu sudah dibereskan. Tidak ada hal lain yang berbahaya bagi Injil dibanding orang Farisi yang merengek, merintih, berjalan berkeliling memikirkan seperti apa posisinya dihadapan Allah. Hal itu sudah dibereskan oleh Yesus Kristus – Anda adalah orang benar.

Alkitab mengatakan bahwa kita semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rom 3:23). Apa itu kemuliaan Allah? Menurut kitab Keluaran, tiga kata yang menggambarkan kemuliaan Allah: kebaikan-Nya, kemurahan-Nya, belas kasih-Nya. Kasih – itulah kemuliaan Allah! Jadi semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kebaikan, kemurahan dan kasih Allah. Keselamatan adalah dipulihkan kembali pada tempat yang memiliki jaminan kasih Allah yang tidak pernah gagal.
Lepaskan daun pohon ara. Tidak ada rasa malu dihadapan Allah. Permasalahan yang sebenarnya bukanlah apa yang Anda lakukan atau tidak lakukan. Namun Kasih.
Apakah Anda kehilangan kebaikan, kemurahan, kasih dan belas kasihan Allah? Apakah Anda telah kehilangan fakta bahwa Allah mengasihi Anda?

Yesus mengambil semua rasa bersalah, rasa mau dan semua perasaan tidak berharga. Membuang daun ara dari agama!

Permasalahan tentang posisi Anda sebagai orang benar dihadapan Allah telah diselesaikan. Yesus mengambil semua rasa bersalah, rasa mau dan semua perasaan tidak berharga. Membuang daun ara dari agama! Jika Anda berdiri dihadapan Allah dengan mengenakan daun ara dari segala hal yang telah Anda lakukan, Anda tidak akan pernah bebas dari rasa bersalah dan rasa malu karena kekurangan Anda.

Dua orang berdoa untuk meringankan rasa bersalah dan rasa malu. Yang satu pulang kerumah tetap memiliki rasa bersaah dan rasa malu. Sedangkan yang lain yang hanya bersandar pada kemurahan Allah, dibenarkan saat ia pulang ke rumah. Yang manakah Anda?

 

Oleh: Peter Youngren

As founder of World Impact Ministries, Celebration Bible College, Way of Peace and the Celebration Churches in Toronto, Hamilton and Niagara, Canada, Peter is committed to equipping believers to fulfill their purpose before the return of Jesus Christ.

Selanjutnya tentang Peter Youngren | Artikel oleh Peter Youngren