Berjanji Pada Allah

Oleh: Steve McVey
Dari: October - November 2012
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia
Pernahkah Anda diberitahu untuk “berdiri diatas janji-janji Allah?” Mungkin Anda juga telah berpikir bahwa Anda harus melakukan bagian Anda dan membuat janji-janji pada Allah.

Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah (2 Korintus 1:20).

Saya menghabiskan bertahun-tahun dari hidup saya berkutat di sekitar janji-janji. Saya membuat janji-janji kepada Allah dan pada sisi yang lain saya juga berusaha untuk “berdiri di atas janji-janji Allah” dengan cara menyesuaikan janji-janji-Nya dengan situasi yang saya hadapi dan mencoba sebaik mungkin untuk percaya bahwa Dia pasti akan menepati janji-janji-Nya.

Apakah Anda juga melakukan hal yang sama? Hal ini bukan hal yang tidak biasa dilakukan orang, tetapi saat saya melihat lamanya tahun-tahun tersebut, antara saya mengklaim janji-janji Allah atau saya berjanji kepada-Nya, saya harap saat itu saya sudah tahu sesuatu. Saya berpikir bahwa berjanji pada-Nya dan berdiri pada janji-janji yang telah Ia buat pada saya merupakan bagian vital dari perjalanan hidup saya sehari-hari, tetapi ternyata saya salah.

Peranan Kita Adalah Menerima

Jika saja saat itu saya memahami apa yang dikatakan Alkitab tentang membuat janji dan mempercayai janji, saya pasti telah menyelamatkan diri saya sendiri dari begitu banyak tekanan dan siksaan. Dalam Perjanjian Baru kita tidak pernah diperintahkan untuk berjanji apapun pada Allah. Hal itu tidak ada disana. Akan tetapi, Alkitab penuh dengan janji-janji yang dibuat Allah pada kita. Itu adalah bagian dari kasih karunia yang sulit diterima orang – karena satu sisi saja. Dia memberi dan kita mendapatkan. Kita tidak memiliki apapun yang dapat ditawarkan untuk membalas bahkan Ia pun tidak membutuhkan ataupun menginginkan apapun dari kita. Peranan kita hanya untuk menerima segala yang telah Ia janjikan, akan tetapi hal itu pun tidak berasal dari usaha kita sendiri.

Bahkan memahami bahwa Allah memberikan janji-janji pada kita tidaklah cukup, karena bila kita tidak memahami keseluruhan jalan ceritanya kita akan berpikir bahwa diri kita perlu untuk berusaha mengumpulkan iman untuk percaya bahwa Ia akan menepati janji-janji-Nya. Kebenarannya adalah seperti ini: Allah telah menggenapi setiap janji yang telah Ia buat kepada kita! Ia telah melakukannya di dalam Kristus.

Dalam Perjanjian Baru kita tidak pernah diperintahkan untuk berjanji apapun pada Allah.

Paulus berkata bahwa semua janji-janji adalah “Ya!” di dalam Yesus Kristus. Hal itu berarti bahwa Dia adalah perwujudan dari janji-janji Allah. Janji-janji Allah pada kita telah digenapi di dalam Yesus! Lalu bagian kita apa?

Kata Paulus adalah sekedar berkata “Amin!” Melalui kehidupan Yesus Kristus di dalam kita, kita mengalami realisasi dari janji-janji Allah yang telah digenapi saat kita mempercayai Kristus di setiap saat. Mengklaim janji-janji Allah itu tidak lebih dari bersandar pada karya yang telah diselesaikan Yesus Kristus.

Dengan kata lain, apapun yang telah dijanjikan Allah pada kita, kita telah memilikinya di dalam Kristus. Kita adalah “anak-anak perjanjian” (Rom 9:8) dan “berhak menerima janji” (Ibrani 6:17) kita dapat santai dan tahu bahwa kita tidak perlu melakukan apapun untuk meraih berkat-berkat Allah dalam hidup kita. Segala yang pernah Ia janjikan untuk Ia lakukan bagi kita telah diselesaikan dan diberikan kepada kita dalam Kristus.

apapun yang telah dijanjikan Allah pada kita, kita telah memilikinya di dalam Kristus.

Tidak heran Rasul Paulus memuji Allah dengan berkata, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3). Perhatikan bahwa ia tidak mengatakan bahwa Allah akan memberkati kita dengan berkat-berkat rohani, tetapi di dalam Kristus kita telah “diberkati” dengan segala berkat rohani. Penggenapan dari segala janji ilahi akan nyata dalam hidup Anda saat Anda hanya mempercayai Kristus untuk berperan sebagai Kristus di dalam Anda dan melalui Anda.

Perjanjian Allah dengan Abraham

Saat Allah bersiap untuk masuk dalam perjanjian dengan Abraham yang berperan sebagai penerima, Abraham bekerja untuk mempersiapkan upacara pengesahan (lihat Kejadian 15). Dia berasumsi bahwa ia dan Allah akan segera memasuki sebuah perjanjian bersama-sama.

Dia mempersiapkan hewan korban dengan membelahnya dan meletakkan masing-masing potongan di dua sisi dengan sebuah jalan darah ditengahnya. Biasanya, saat dua orang masuk dalam suatu perjanjian bersama-sama, mereka akan berjalan bergandengan tangan di jalan darah itu. Saat melakukan hal itu, mereka saling berjanji bahwa mereka akan mentaati bagian mereka dari perjanjian itu, sekalipun bila itu berarti harus mencurahkan tetes darah penghabisan untuk melakukannya.

Tetapi saat waktunya tiba agar perjanjian itu disahkan dengan Abraham, Allah membuat Abraham tidur nyenyak dan Allah berjalan sendirian di jalan darah tersebut. Terlihatlah ada perapian yang berasap dan suluh yang berapi lewat melalui jalan berdarah yang dihasilkan oleh hewan korban.

Apa arti dari hal tersebut? Artinya bahwa Abraham tidak perlu membuat janji apapun.

Kita tidak berdiri di atas janji-janji. Kita telah duduk di atas tempat itu bersama dengan Dia!

Perjanjian itu dilakukan antara Bapa (api), Roh (asap) dan Anak (darah). Abraham tidak memiliki peranan berkaitan dengan menepati bagian yang harus ia lakukan dari perjanjian itu. Dia tidak memiliki peranan. Menepati janji kepada Allah? Satu-satunya hal yang pada akhirnya akan ia lakukan adalah melanggarnya juga. Jadi Allah Tritunggal berjalan diatas jalan tersebut dan masuk kedalam perjanjian bersama-sama, dan dengan melakukan hal itu, memberikan bukti bahwa Ia akan menepati syarat-syarat perjanjian. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan Abraham adalah mempercayai Dia dengan menyadari posisinya sebagai penerima. Saat semuanya sudah dikatakan dan telah selesai, Abraham mempercayainya dan “hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran” (Roma 4:3).

Duduk bersama Kristus

Itu saja yang perlu Anda lakukan. Hanya percaya bahwa Yesus adalah penggenapan dari janji-janji Allah bagi Anda dalam segala situasi. Anda tidak perlu mengusahakan segalanya terjadi. Anda tidak memiliki bagian untuk dikerjakan dalam hal ini. Legalisme bersikeras bahwa kita “harus melakukan bagian kita” dengan menghasilkan cukup iman untuk mempercayai janji-janji-Nya atau membuat janji kepada-Nya tentang bagaimana kita akan melakukan dengan lebih baik dan mencoba lebih keras, tetapi kasih karunia memberitahu kita bahwa Ia telah melakukan semuanya. Kita duduk bersama Kristus di sorga. Kita tidak berdiri diatas janji-janji. Kita telah duduk di atas tempat itu bersama dengan Dia! Jadi bersandarlah saja pada apa yang sudah Ia lakukan dan berikan “Amin” dengan keras dan sepenuh hati kepada Yesus! Hal itu saja yang membawa kemuliaan tertinggi bagi Allah.

Oleh: Steve McVey

Dr. Steve McVey is a dynamic author and speaker who inspires Christians to develop a deeper, more intimate relationship with God.

Selanjutnya tentang Steve McVey | Artikel oleh Steve McVey