JANJI-JANJI ATAU PERSYARATAN-PERSYARATAN

Oleh: Mary Felde
Dari: November-December 2010
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia

Ada sebuah pemikiran yang terus terngiang dalam pikiran saya dalam minggu-minggu terakhir ini: Jangan rubah janji-janji Allah menjadi persyaratan-persyaratan. Jangan rubah janji-janji yang indah dari tentang siapa Allah dalam kehidupan kita menjadi persyaratan-persyaratan yang harus kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri.

Perjanjian Lama berisi banyak sekali persyaratan yang harus dilakukan orang Yahudi agar mereka dapat menerima berkat. Dalam Pejanjian Baru juga terdapat instruksi-instruksi berkaitan dengan sikap hidup kita, akan tetapi ada perbedaan yang besar. Sekarang Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Fil 2:13). Kristus di dalam kita, harapan akan kemuliaan. Saat Paulus dan yang lain memberikan instruksi-instruksi pada orang percaya yang telah lahir baru, Ia sering menekankan bahwa hal itu mungkin karena kita memiliki sifat alami yang baru dan kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita dan Allah bekerja di dalam hidup kita melalui Roh Kudus.

Paulus menggambarkan kehidupan baru yang sekarang dapat kita jalani, bukan sebagai sebuah persyaratan agar diterima oleh Allah tetapi sebagai buah dari hidup baru di dalam kita. Marilah kita mempertahankan fokus yang benar dan tetap mengingat bahwa Kristus di dalam kita adalah solusinya.

Kebenaran ini juga berlaku dalam area-area seperti Tuntunan Roh Kudus dan iman. Keduanya merupakan janji Allah yang indah, jadi janganlah kita kemudian merubahnya menjadi beban dan sesuatu yang harus kita usahakan untuk dapat meraihnya.

Nikmatilah Masa Natal dan ketahuilah bahwa Yesus datang untuk menjadi hidup kita – dan hidup yang berkelimpahan.

Oleh: Mary Felde

Mary Felde is a missionary and worldwide speaker of the Word of God. She has thought in churches, seminars, conferences, and Bible schools on four continents.

Selanjutnya tentang Mary Felde | Artikel oleh Mary Felde