Membaca Firman Tuhan dalam Terang Perjanjian Baru

Oleh: Åge M. Åleskjær
Dari: January 2009
Ditemukan dalam: Membaca Firman Tuhan
Sangat penting agar kita memperhatikan pembagian tertentu dalam Firman Allah. Ini akan sangat meningkatkan pewahyuan dalam perjanjian yang baru dan lebih baik.

Ketika kita mempelajari Alkitab, sangat penting bahwa kita membagi Firman Allah dalam cara yang benar. Pertama, kita harus melihat berbagai kelompok orang yang sedang dibicarakan, kedua, kita harus memahami peristiwa-peristiwa tertentu yang juga membuat pembagian pada waktu. Kebenarannya adalah ketika Yesus masih berjalan di muka bumi ini, Dia tidak bisa memberikan seluruh pewahyuan itu, meskipun Dia menunjuk kesana. Ini karena pekerjaan pertama yang harus dilakukan-Nya adalah belum selesai.

Kitab Suci menjelaskan dispensasi, jadwal waktu Tuhan, dan perjanjian yang berbrda. Di tengah semua itu kita menemukan salib Kristus. Ada pembagian yang dramatis pada saat kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus, serta pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Yesus banyak berbicara tentang waktu setelah hari Pentakosta. Dia berkata: “Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yohanes 14:20).

Ada pembagian yang dramatis pada saat kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus, serta pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13).

Paulus menjelaskan pembagian waktu yang sama, dan berbicara tentang waktu “sebelum iman datang” dan “sesudah iman telah datang” (Galatia 3:23-25)

Kita memiliki hak istimewa untuk hidup setelah iman telah datang, setelah wasiat itu berlaku (Ibrani 9:16-17), dan setelah Roh telah datang. Kita hidup “di hari itu” yang dibicarakan Yesus dengan sangat antusias. Ini adalah waktu ketika Dia dapat berbicara dengan jelas kepada kita.

Tiga kelompok

“Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah” (1 Kor 10:32).

Firman Allah membagi orang ke dalam tiga kelompok: orang-orang Yahudi, bangsa-bangsa lain, dan jemaat Allah. Saya berterima kasih kepada Rev Kenneth Hagin, yang membuka mata saya terhadap prinsip sederhana ini. Saya mendapatkan pegangan pengajaran ini melalui petunjuk dari Roh Kudus. Suatu pagi ketika saya sedang berdoa tentang situasi yang harus saya selesaikan sebagai seorang gembala, Roh Kudus berbicara kepada saya dan mengatakan bahwa jawaban saya cari dapat ditemukan dalam beberapa pengajaran oleh Rev Kenneth Hagin, yang saya miliki kasetnya. Saya menemukan jawaban yang saya butuhkan, tapi saya juga mendapatkan sesuatu yang menjadi bantuan tidak ternilai dalam mempelajari Firman Allah. Saya bisa melihatnya dengan jelas dalam Alkitab. Kalau Anda ingin mempelajari hal ini secara lebih rinci, Anda bisa membuka 1 Kor 10:32, 1 Kor 9:19-23, Rom 2:14-15, Kisah 15:19-21, Kisah 21:25, dan Gal 2:7-8.

Paulus tidak di bawah hukum Taurat, tetapi bukannya tidak punya hukum.

Hanya sesederhana itu saja - tiga kelompok orang dan Allah melakukan pendekatan berbeda pada masing-masing kelompok. Pewahyuan yang dibagikan Hagin dalam kasetnya adalah ada tiga aturan hukum yang berbeda untuk ketiga kelompok tersebut. Orang Yahudi memiliki Hukum Musa, orang-orang non-Yahudi mempunyai “hukum hati nurani,” dan jemaat Allah mempunyai “hukum Kristus” atau “hukum kasih.” Semua kelompok yang diwakili dalam 1 Kor. 9:20-21: orang-orang Yahudi berada di bawah hukum Taurat; bangsa-bangsa lain tanpa hukum Taurat. Paulus tidak di bawah hukum Taurat, tetapi bukannya tidak punya hukum. Dia berada dalam hukum Kristus. Ini nyata, jelas dan sederhana.

Saya tetap seperti seorang murid sekolah Alkitab. Saya harus mendapatkan lebih dari satu ayat mengenai suatu kebenaran; minimal dua atau tiga saksi. Kebenaran itu juga harus sesuai dengan keseluruhan yang ada, dan tidak boleh bertentangan dengan pernyataan jelas lain yang ada dalam Firman Allah.
Kadang-kadang mungkin tampak seolah-olah bertentangan dengan Alkitab itu sendiri, tapi itu hanya karena kita tidak melihat seluruh konteksnya. Firman Allah selalu selaras dengan dirinya sendiri.

Jadi, Firman Allah membagi orang menjadi tiga kelompok, dan dengan aturan hukum yang berbeda bagi masing-masing kelompok ini. Dengan mengingat hal ini, kita dapat dengan mudah memahami bahwa kita harus memandang tiga kelompok ini dengan cara yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa bertanya pada diri kita sendiri tentang hal tersebut saat kita mempelajari Alkitab penting dilakukan untuk dapat lebih memahami konteksnya.

Jadi, Firman Allah membagi orang menjadi tiga kelompok, dan dengan aturan hukum yang berbeda bagi masing-masing kelompok ini. Dengan mengingat hal ini, kita dapat dengan mudah memahami bahwa kita harus memandang tiga kelompok ini dengan cara yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa bertanya pada diri kita sendiri tentang hal tersebut saat kita mempelajari Alkitab penting dilakukan untuk dapat lebih memahami konteksnya.

Pertanyaan yang diajukan ketika mempelajari Alkitab

Aturan sederhana dan mendasar untuk memahami Alkitab adalah dengan bertanya:

Siapa yang berbicara?
Kepada siapa mereka berbicara?
Apa yang sedang mereka bicarakan?

Pertanyaan pertama adalah: “Siapa yang berbicara?”
Allah telah mengijinkan perkataan banyak orang dikutip dalam Alkitab, termasuk orang-orang bodoh. Bahkan perkataan iblis juga dikutip berkali-kali. Dalam kitab Ayub ada beberapa perkataan yang diperbolehkan. Tetapi penting untuk melihat bahwa Allah menegur mereka dalam pasal 42, mengatakan, “...  kamu tidak berkata benar tentang Aku ...”
Dan Ayub sendiri berkata, ” Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:5-6).
Ini adalah informasi berguna. Anda harus membaca 41 bab pertama dari kitab Ayub melalui sudut pandang ini, hanya dengan demikian Anda mengerti Firman Kebenaran dengan tepat.

Allah telah mengijinkan kami untuk bergabung dengan sebuah pencarian di mana kebenaran akhirnya terungkap. Kitab puisi lainnya juga semacam itu - misalnya, Pengkhotbah. Adalah penting untuk mengerti bahwa bukan Allah yang menyatakan, “Semua adalah sia-sia!” Yang mengatakan hal itu adalah pengkhotbah dalam kitab ini yang pada saat itu berada dalam periode kehidupan di mana ia merasa frustrasi, mencari kebenaran. Allah memperbolehkan kita untuk mengambil bagian dalam proses, dan banyak orang yang sadar akan diri mereka sendiri.

Pertanyaan kedua adalah: “Kepada siapa mereka berbicara?”
Ketika Timotius dinasihati untuk minum anggur bagi kesehatan perutnya, itu tidak dimaksudkan sebagai perintah bagi kita semua untuk minum anggur. Di sisi lain, rasul Paulus menterjemahkan hukum kasih mengenai hal ini dalam Roma 14, dan kesimpulannya adalah: berjalan dalam kasih!

Banyak dari yang Yesus katakan dalam Injil juga harus dipelajari dari sudut pandang kepada siapa ia berbicara. Seringkali ia menjawab pertanyaan dari orang-orang Farisi, dan jelas jawabannya akan berhubungan dengan orang-orang Yahudi di bawah Hukum dan bukan untuk bangsa-bangsa Kristen setelah Pentakosta. Dia dengan jelas menyatakan, “Aku tidak dikirim kecuali untuk domba yang hilang dari umat Israel.”

Sering kali saat Yesus berbicara tentang Hukum Taurat kepada orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat, biasanya penerapannya tidaklah sama bagi mereka yang non-Yahudi, telah lahir baru dan berada dibawah hukum Kristus.

Tentu saja ajaran-ajaran Yesus membawa makna bagi kita sekarang. Tetapi kita harus belajar untuk memisahkan Firman kebenaran dengan benar. Kita harus membaca sesuai dengan konteksnya. Sebagai contoh, ketika Yesus berbicara kepada orang muda yang kaya bahwa ia akan diselamatkan dengan melakukan semua perintah Allah, Dia mengatakan hal ini karena Ia berbicara dengan seorang Yahudi yang hidup di bawah Perjanjian Lama. Dia tahu, tentu saja, bahwa tidak ada orang yang berusaha hidup sesuai dengan Hukum Taurat mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi dalam kejadian khusus ini, Dia menghubungkan jawaban-Nya pada Firman Allah bagi orang-orang Yahudi. Saat ini jawaban-Nya bagi orang muda yang kaya akan sangat berbeda dengan saat itu. Sekarang pesannya adalah, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (Roma 10:13). “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat….” (Kis 16:31).

Saya percaya Anda bisa melihat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, juga mengenai pertanyaan ketiga: ”Apa yang sedang mereka bicarakan?”  Sering kali saat Yesus berbicara tentang Hukum Taurat kepada orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat, biasanya penerapannya tidaklah sama bagi mereka yang non-Yahudi, telah lahir baru dan berada dibawah hukum Kristus. Semua hal ini akan menolong kita sebagai hamba Tuhan untuk memilah Firman kebenaran dengan benar. Tetapi masih ada yang lain.

Kitab Suci

Alkitab dibagi menjadi Perjanjian Lama dan Baru. Saat Perjanjian Baru menyebutkan tentang “Kitab Suci,” yang dimaksudkan adalah Perjanjian Lama. Itulah Alkitab yang mereka miliki pada saat itu. Perjanjian Baru belum ditulis. Yesus sering mengatakan, “Ada tertulis” atau “Tidakkah kamu baca?”

Dalam Kisah Para Rasul kita dapat membaca tentang orang-orang di Berea dan bagaimana mereka “menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. (Kis. 17:11)

Rasul Paulus menggunakan Kitab Suci dalam pelayanannya, “Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. (Kis 18:28)

Jadi sangat jelas bahwa ada ketertarikan bagi orang Kristen untuk menyelidiki Kitab Suci – Perjanjian Lama. Kita menyukai Alkitab dari sampul depan sampai sampul belakang.

Tetapi sekarang kita mampu membacanya dalam sudut pandang yang baru. Sekarang kita memiliki Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru memberikan jawaban pada apa yang ditunjukkan pada Perjanjian Lama. Alkitab menjelaskan bahwa segala hal yang terjadi pada orang-orang pada masa Perjanjian Lama merupakan contoh bagi kita yang hidup pada masa sekarang (1 Kor 10:11).

Injil dan Kisah Para Rasul

Bagian awal dari Perjanjian Baru adalah pewahyuan tetang kehidupan Yesus. Kita bisa mempelajari kehidupan dan pengajaran-Nya serta melihat apa yang Dia lakukan bagi kita. Sangat luar biasa saat mengikuti Anak Allah dari dekat dan mengetahui bahwa Dia datang untuk menunjukkan kepada kita siapa sebenarnya Allah itu. Para murid menuliskan hal ini sesuai dengan yang diinginkan Roh Kudus. Misi mereka adalah mencatat kehidupan dan keberadaan Yesus.

Kisah Para Rasul merupakan kitab berikutnya. Kitab ini adalah sejarah dari orang Kristen mula-mula. Perkataan dan janji-janji Yesus dioperasikan pada saat ini dan dasar dari gereja Perjanjian Baru diletakkan. Ini adalah bacaan yang luar biasa!

Pada masa Injil, Perjanjian Baru masih belum beroperasi.

Namun demikian, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Pada masa Injil, Perjanjian Baru masih belum beroperasi. Inilah mengapa Yesus begitu jelas mengatakan bahwa Dia hanya dikirim kepada orang Yahudi. Pelayanan-Nya di bumi hanya ditujukan bagi mereka, meskipun demikian, hidup-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya juga berlaku bagi kita, bangsa-bangsa lain yang jauh (Mat 15:24, Mat 10:5-6). Sangat penting untuk dimengerti bahwa Yesus sering kali berbicara tentang Hukum Taurat dan orang-orang yang berada di bawah Hukum Taurat, dan memang itulah yang Dia katakan, karena itu hal-hal tersebut tidak selalu berlaku bagi kita yang hidup setelah Kalvari.

Mari saya berikan contoh lain yang dapat lebih jelas menggambarkan efek radikal yang dihasilkan oleh Kalvari.

Dia Telah Mengampuni Kita sehingga Kita Bisa Mengampuni Sesama Kita
Sebelum Kalvari, saat Yesus mengajarkan bagaimana cara berdoa “sebelum Pentakosta” pada para murid-Nya, Anda dapat memperhatikan bahwa untuk mendapatkan pengampunan, Anda harus lebih dulu memberikan pengampunan. Inisiatifnya berasal dari Anda, dan manusialah yang harus lebih dulu mengampuni dan mengasihi, setelah itu barulah Allah akan mengampuni. Baca Mat 6:12, 14-15.

Pesan ini sangat jelas. Anda tidak akan menerima pengampunan kecuali Anda lebih dulu mengampuni. Hal ini telah mengakibatkan penderitaan besar bagi mereka yang memiliki kesulitan untuk memaafkan orang tua yang telah melecehkan mereka saat masih kecil, atau memaafkan pasangan hidup yang tidak setia yang telah mengecewakan orang yang dicintai. Banyak konselor yang memaksakan pengampunan yang setengah hati dari orang agar mereka bisa diampuni. 

Tetapi Injil membawa kabar baik. Membawa pengampunan bagi jiwa yang tersiksa dan melepaskan pengampunan bagi mereka yang perlu untuk mengampuni. Inilah pesannya: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef 4:32).

Setelah Kalvari urutannya telah berubah! Kita tidak mengampuni untuk menerima pengampunan, tetapi kita mengampuni sebagai buah dari pengampunan yang telah diberikan.

Karya-Nya yang telah selesai menyatakan bahwa pengorbanan-Nya telah membuat penebusan bagi dosa-dosa dunia, dan kita telah diampuni di atas kayu salib.  “Kita mengasihi, karena Allah. lebih dahulu  mengasihi kita.” (1 Yoh 4:19). Jadi tidak dimulai dari kita – tetapi dimulai dari Dia. Untuk bisa mengerti perbedaan ini adalah dengan mengerti Injil itu sendiri.

Setelah Kalvari urutannya telah berubah!

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yoh 4:10).

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8).

Semua dimulai oleh Allah, bukan kita. Dia lebih dulu mengasihi kita, Dia lebih dulu mengampuni kita, dan Dia mati bagi kita saat kita masih menjadi orang berdosa.

Kol 3:13 mengkonfirmasi Ef 4:32 dengan sangat indah: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kol 3:13).

Sekali lagi sangat jelas siapa yang menjadi pihak pertama dalam mengampuni. Kristus lah yang telah mengampuni kita. Itulah mengapa kita harus mengampuni. Penebusan membuat perbedaan; sekarang kita dapat membangun diatas apa yang telah Dia selesaikan. Dan kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita, memampukan kita untuk mengampuni sesama (Rom. 5:5).

Apakah Anda melihat perbedaan besar yang datang setelah Kalvari? Salib telah meninggalkan tanda yang kekal pada sejarah, perjanjian yang baru dan lebih baik telah datang dengan dasar yang baru dan lebih baik.

Pewahyuan belum diberikan
Pewahyuan yang kemudian diterima Paulus mengenai gereja dan mengenai injil bagi bangsa-bangsa lain belum dinyatakan pada saat Yesus berjalan di muka bumi. Karena itu, pewahyuan tersebut tidak tertulis dalam keempat Injil. Yesus menunjukkannya sekilas saja tetapi hal tersebut belum dinyatakan. Dia memberikan beberapa “tanda-tanda” profetik tentang hal itu, khususnya dalam Injil Yohanes, tetapi Dia berkata, ” Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.”

Yesus sering kali menunjuk pada pembagian waktu yang akan datang setelah kematian-Nya, dan berkata, “Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya  Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku…” (Yoh 16:25-26).

Dia juga berkata, He also said, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:12-13).

Roh itu harus datang lebih dulu sebelum kita dipimpin dalam seluruh kebenaran. Itulah mengapa Alkitab tidak dapat digenapi sebelum sesudah Roh itu datang dan Rasul Paulus telah ditugaskan untuk “menggenapi Firman Allah.” Yesus memiliki banyak hal yang harus dikatakan tetapi Dia tidak mempunyai kesempatan untuk membagikannya pada saat Dia masih di muka bumi, tetapi sekarang, Dia telah membagikannya dengan menyatakan diri-Nya sendiri pada Paulus. Pada saat ini Dia telah menjelaskan kepada kita dengan terus terang tentang arti dari hidup dan pengorbanan-Nya, dan hal itu tidak disampaikan dengan bahasa kiasan (Yoh 16:25).

Yesus memiliki banyak hal yang harus dikatakan tetapi Dia tidak mempunyai kesempatan untuk membagikannya pada saat Dia masih di muka bumi, tetapi sekarang, Dia telah membagikannya dengan menyatakan diri-Nya sendiri pada Paulus.

Wasiat Berkuasa Setelah Kematian

Dalam kenyataannya, hal ini merupakan pewahyuan yang membuat bagian-bagian yang terpisah jatuh pada tempatnya. Pewahyuan itu adalah untuk memahami makna salib Tuhan kita Yesus Kristus!

Inilah mengapa Rasul Paulus mengatakan “Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu,” dan bagaimana dia telah memutuskan “untuk tideak mengetahui apa-apa diantara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Dan dia tidak akan bermegah “kecuali di dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.”

Perhatikan apa yang dikatakan Alkitab: “Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup” (Heb. 9:16-17).

Jadi Perjanjian Baru mulai berkuasa pada akhir Injil-injil. Kita bisa melihat sekilas tentang hal itu dalam Injil Yohanes, khususnya pada pasal-pasal terakhir. Disana Yesus bernubuat tentang apa yang akan terjadi setelah Roh itu datang.

Perjanjian Allah adalah “perjanjian darah,” jadi Perjanjian Baru tidak dapat dimulai sebelum Yesus mati dan memberikan darah-Nya.

Alkitab harus dibaca dalam terang isu sentral ini: salib Tuhan kita Yesus Kristus. Selain itu juga harus dibaca dalam terang dari fakta bahwa Yesus telah masuk ke Ruang Maha Kudus, kedalam sorga itu sendiri, dengan darah-Nya, dan duduk sebagai Imam Besar bagi berkat dan keselamatan yang sekarang kita nikmati. Saat Dia duduk di sorga, Roh itu dicurahkan. Itulah saat dimana “perjanjian oleh Roh” dapat dimulai.

Kemuliaan Setelah Salib Yesus

Rasul Petrus juga mengajarkan hal yang sama dengan Rasul Paulus, yaitu tentang salib sebagai pembagian waktu. Dia menulis: “Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu” (1 Pet 1:10-11).

Dengan kata lain, saat yang mereka lihat adalah penderitaan Kristus (salib) dan kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Mereka menubuatkan tentang periode waktu tertentu dan mereka menyelidiki dan meneliti saat atau waktu yang bagaimana yang mereka nubuatkan itu. Mereka telah melihat sebelumnya kemuliaan yang sekarang kita hidup di dalamnya – kita yang hidup setelah Pentakosta, pada zaman Perjanjian Baru.

Mereka telah melihat sebelumnya kemuliaan yang sekarang kita hidup di dalamnya – kita yang hidup setelah Pentakosta, pada zaman Perjanjian Baru.

Waktu dari Yohanes Pembabtis sampai Pentakosta

Kalau kita membaca dengan lebih teliti, kita akan melihat waktu dari Yohanes Pembaptis sampai hari Pentakosta sebagai suatu pembagian waktu juga. Pada waktu itu Injil Kerajaan Allah diberitakan dan saat itu memungkin untuk “memaksa masuk” atau “merebutnya.”

“Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.” (Luk 16:16).

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.” (Mat 11:11-12).

Beberapa orang membaca ayat-ayat tersebut dan percaya bahwa Perjanjian Baru dimulai dari Yohanes Pembaptis, tetapi ada sesuatu yang tidak “membagi dengan benar firman kebenaran.” 
Pertama, Mat 11:11 menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis tidak lahir baru dan karena itu dia lebih kecil dari yang terkecil dalam Kerajaan Sorga. Anda harus lahir baru untuk dapat masuk Kerajaan Sorga (Yoh 3:3-5), dan tidak mungkin untuk lahir baru sebelum kebangkitan Yesus. Yesus harus bangkit dari antara orang mati, “sehingga Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Rom 8:29 dan Kol 1:18).

Bagaimanapun juga, dalam periode waktu dari Yohanes Pembaptis sampai hari Pentakosta, ada yang dapat mengambil berkat dari Kerajaan Sorga dengan paksa. inilah mengapa orang-orang pada saat itu dapat mengalami pengampunan dosa-dosa dan kesembuhan lebih daripada sebelumnya. Bahkan bangsa-bangsa lain, yang bukan termasuk “anak-anak” yang memiliki roti, yaitu bangsa Yahudi, mengambil kerajaan itu dengan paksa – meskipun bangsa-bangsa lain itu disebut sebagai “anjing” (ref Mat 15:22-28).

Periode waktu antara Yohanes Pembaptis sampai Pentakosta merupakan masa peralihan yang sangat penting. Yesus berjalan di bumi dan Kerajaan Allah sudah dekat.

Namun, waktu yang benar-benar baru dimulai setelah Kalvari. Sekarang permusuhan telah dihapuskan, bangsa-bangsa non-Yahudi termasuk di dalamnya, dan Dia telah membawa kita kedalam Kerajaan Allah.

Yesus Banyak Bernubuat tentang Waktu yang Kita Hidupi

Saat Yesus akan naik ke sorga, dia berbicara tentang Perjanjian Baru dan waktu setelah Pentakosta. Dia berkata, “Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku” (Luk 22:29).

“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Luk 12:32).

Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa, karena itu tidak lagi perlu untuk “merebutnya” atau “memaksa masuk.”

 
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa” (Mar 9:1).

Dengan kata lain: Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa, karena itu tidak lagi perlu untuk “merebutnya” atau “memaksa masuk.” Tentu saja tidak perlu melakukan hal itu jika “Kerajaan itu telah ditentukan bagi kita” dan “Bapa berkenan memberikan Kerajaan itu bagi kita.” Kita telah diberikan bagian yang penuh, dan masa untuk “mengusahakannya” telah berakhir.

Memindahkan kita ke dalam Kerajaan Allah

Perhatikan betapa berbedanya hal ini setelah Kalvari: “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih” (Kol 1:13).

Kita ada di dalam, bukan di luar! Kita tidak merebutnya dengan paksa – kita hidup didalamnya.

Hal ini terjadi tanpa ada usaha dari kita; kita dibawa masuk kedalam kerajaan-Nya. Dialah yang mengusahakannya – bukan kita. Kita tidak perlu merebutnya dengan paksa – Dia menempatkan kita di dalamnya. Sekarang kita telah ditempatkan dalam kerajaan Anak yang dikasihi-Nya, jadi jelas sekali kita tidak berdiri di luar, mencoba untuk masuk atau merebutnya dengan paksa. Kita telah dibawa masuk ke dalam kerajaan. Kita ada di dalam, bukan di luar! Kita tidak merebutnya dengan paksa – kita hidup didalamnya. Saat kita mengkhotbahkan bahwa orang Kristen harus berusaha keras mendapatkannya (Lukas 16:16 dan Mat 11:12), kita sedang mengabaikan karya Kristus yang nyata, seperti yang dinyatakan dalam Kol 1:13.

Injil menurut Paulus – edisi cetak merah

Beberapa tahun lalu gereja kami mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumah sebuah pertemuan dengan penginjil terkenal Dr. T.L. Osborn. Dalam percakapan kami, dia menyebutkan sesuatu yang memberikan kesaksian bagi hati saya. Dia berkata bahwa dia mengharapkan ada seseorang yang menerbitkan edisi cetak merah dari surat-surat rasul Paulus, dimana semua yang dikatakan Paulus tentang pengampunan dan karya salib dicetak merah, sedangkan yang lainnya di cetak hitam. Dia berkata bahwa kita memiliki Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, tetapi Injil bagi bangsa-bangsa non-Yahudi – yaitu kita – adalah Injil menurut Paulus, dan hal itu seharusnya juga dicetak dalam edisi cetak merah.

Anda melihat bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes pada intinya menceritakan kepada kita apa yang terjadi “secara fisik” dalam hubungannya dengan kematian dan kebangkitan Yesus. Kita dapat membaca tentang penyaliban, kubur, kebangkitan, para malaikat, dan tentang Yesus yang telah bangkit dan menyatakan diri-Nya.

Tetapi rasul Paulus lah yang menunjukkan kepada kita konsekuensi rohani dari apa yang telah terjadi! Dia menjelaskan bahwa kita mati bersama Kristus, bangkit bersama Dia dan duduk bersama Dia di sorga.

Dia menunjukkan kepada kita kedalaman dari penebusan, dan menjelaskan bahwa Yesus dibuat menjadi dosa bagi kita sehingga kita menjadi kebenarannya Allah di dalam Dia. Surat-suratnya menyatakan tentang siapa kita di dalam Kristus dan siapa Kristus di dalam kita.

Misteri gereja disingkapkan, dan semua bagian disatukan sehingga kita dapat melihat gambaran utuh yang tersembunyi pada masa sebelumnya. Hal itu termasuk masa kitab-kitab Injil dan masa saat Yesus berjalan di muka bumi.

Inilah mengapa surat-surat Paulus seharusnya mendapatkan tempat istimewa dalam kehidupan kita yang dulunya merupakan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah tetapi sekarang telah menjadi bagian dari Gereja. Kita telah dicangkokkan pada pokok anggur, dan Paulus, “rasul bagi bangsa non-Yahudi,” telah diberi tugas untuk menyingkapkan Injil bagi golongan “tidak bersunat.”

Hal ini tidak mengurangi pentingnya kitab Perjanjian Lama ataupun kitab-kitab Injil, tetapi mendorong kita untuk membaca Alkitab dalam terang Alkitab! Jika kita melewatkan pewahyuan dalam Alkitab dan dalam rencana Allah tentang keselamatan, maka kita telah membaca Alkitab melalui kacamata hitam yang meredupkan pandangan. Ada banyak kacamata hitam agama yang telah diberikan oleh tradisi dan komunitas rohani pada kita.

Anda mungkin berpikir mengapa saya mengatakan bahwa surat-surat Paulus seharusnya di cetak merah, warna yang sama dengan perkataan Yesus yang terdapat dalam kitab-kitab Injil. Mungkin Anda merasa bahwa hal ini terlalu membesar-besarkan tentang pentingnya Paulus. Anda juga mungkin berpikir mengapa saya katakan bahwa hanya sebagian dari surat-suratnya yang seharusnya dicetak merah – tidak seluruh tulisannya. Mari kita perhatikan.

Pertama, Paulus menulis untuk menjelaskan pewahyuan tentang Injil yang diterimanya. Dia tidak menerimanya dari manusia tetapi dari Yesus Kristus sendiri (Gal 1:11-12).

Kedua, dia menulis setelah Penasihat itu datang. Dan sekarang Yesus dapat membagikan pada kita segala yang ingin Dia katakan kepada kita, tetapi yang tidak dapat Ia lakukan pada saat masih di muka bumi. “Hari” yang ditunjukkan Yesus telah datang (Yoh 16:25).

Bukan Paulus yang penting, tetapi pewahyuan yang diberikan Yesus kepadanya yang penting. Bukan sekretarisnya yang hebat tetapi dia yang mendikte buku yang hebat.

Jadi, faktanya, Paulus hanya sebagai sekretaris. Dia menuliskan pewahyuan yang dia dapatkan langsung dari Yesus yang telah bangkit. Kita harus memahami tentang pewahyuan yang diterima Paulus. Bukan Paulus yang penting, tetapi pewahyuan yang diberikan Yesus kepadanya yang penting. Bukan sekretarisnya yang hebat tetapi dia yang mendikte buku yang hebat. Inilah mengapa kata-kata tersebut juga dapat dicetak merah. Kita tidak memuji Paulus. Sebaliknya, kita memuji Yesus, Dialah yang memanggil dan mengurapi rasul Paulus serta memberinya tugas untuk menggenapi Firman Allah, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Ketiga, Paulus disebut rasul bagi bangsa non-Yahudi, dan merupakan satu-satunya yang dipanggil Allah dengan cara yang khusus untuk memberitakan pada bangsa non-Yahudi, bangsa yang tidak bersunat, sama seperti Paulus yang dipanggil bagi bangsa yang bersunat. Fakta bahwa bangsa-bangsa non-Yahudi juga termasuk merupakan bagian dari misteri yang dinyatakan pada Paulus. Nanti kita akan melihat tentang hal itu, tetapi poin saya disini adalah bahwa Paulus menanam jemaat-jemaat, dan Alkitab mengatakan bahwa dia memiliki “urusan sehari-hari untuk memelihara semua jemaat-jemaat” (2 Kor 11:28). Sebagai bapa geeja dia menulis surat-surat untuk membantu mereka tentang berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari jemaat. Dia perlu untuk berkata tentang beberapa hal tertentu di Korintus, dan tentang hal lain di jemaat yang lain. Dalam surat-suratnya kepada Timotius dia menguatkan dan mengajar Timotius tentang bagaimana menjadi pemimpin dalam jemaat. Hal tersebut memang penting bagi kita dan kita dapat banyak belajar darinya, tetapi semua itu bukanlah bagian dari misteri yang telah tersembunyi selama berabad-abad dan dari generasi ke generasi. Karena itu bagian tersebut tidak perlu untuk dicetak merah.

Dalam Efesus 1 dan 2 kita dapat menemukan versi padat dari pesan yang telah diberikan pada Paulus

Dalam Efesus 1 dan 2 kita dapat menemukan versi padat dari pesan yang telah diberikan pada Paulus (seperti yang dijelaskan juga oleh Paulus dalam Ef 3:1-6). Dalam Ef 1 dan 2 ada salam yang singkat dan kemudian bisa dikatakan dia “langsung pada intinya.” Tidak disebutkan tentang permasalahan hubungan manusia atau yang sama dengan itu. Paulus berkata, “Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus.” Dua pasal tesebut adalah inti dari rahasia yang dinyatakan kepada Paulus.

Saya ingin selalu berfokus pada injil kasih karunia, karena itu, saya tidak pernah melewatkan satu minggu tanpa membaca dua pasal itu. Paulus menguraikan secara rinci pesan tersebut diseluruh surat-suratnya. Bagian yang dicetak merah dapat ditemukan dalam berbagai bagian lain, tetapi seluruh Efesus 1 dan 2 seharusnya dicetak merah.

Surat Petrus dan Yakobus

Tidak hanya Paulus yang menulis kitab Perjanjian Baru. Jika kita menganggap bahwa Paulus adalah penulis dari surat Ibrani, maka masih ada surat-surat dari Petrus, Yakobus dan Yohanes. Surat-surat tersebut juga diberikan dari Allah dan berguna untuk mengajar, memperbaiki kelakuan dan mendidik dalam kebenaran.

Tetapi dalam Gal 2:7-8 kita membaca tentang pembagian tugas. Petrus memiliki panggilan bagi orang-orang bersunat, dan Yakobus adalah gembala di jemaat Yerusalem – sebuah jemaat yang penuh dengan orang Yahudi yang mesianis. Menurut Kis 21:20 banyak dari mereka yang “rajin memelihara huklum Taurat.”

Secara umum, surat-surat Petrus dan Yakobus ditujukan pada kelompok orang tersebut. Pendahuluan dari surat-surat tersebut merupakan fakta yang menyatakan bahwa yang mereka maksudkan adalah orang Yahudi yang telah diselamatkan. Hal ini juga sama dengan surat Ibrani.

Surat-surat tersebut juga merupakan Firman Allah. Dan surat-surat tersebut juga memiliki pesan bagi orang-orang non-Yahudi. Kita hanya perlu mengingat bahwa surat-surat tersebut dituliskan bagi “orang-orang bersunat,” sementara sebagian besar Paulus menulis bagi “orang-orang yang tidak bersunat.” Maka kita akan ingat untuk membaca Alkitab dalam terang perkataan yang ada dalam Alkitab, dan kita akan membagi Firman Kebenaran dengan benar.

Membaca Alkitab dalam terang perkataan yang ada dalam Alkitab

Surat-surat Yohanes dan Wahyu kepada Yohanes

Faktanya, surat-surat Yohanes berada dalam bagiannya tersendiri. Dia juga memiliki panggilan terhadap orang-orang bersunat. Tetapi menurut sejarah gereja, Yohanes pindah ke Efesus pada hari-hari terakhirnya. Jadi dalam kitab Wahyu dapat kita temukan bahwa ia memiliki hubungan dengan jemaat-jemaat di Asia Kecil. Mereka adalah jemaat yang ditanam dan dipengaruhi oleh Paulus dan rekan-rekannya. Beberapa ahli sejarah mengklaim bahwa Timotius mulai bekerjasama dengan Yohanes setelah kematian Paulus sekitar tahun 67 M. Timotius sangat bersyukur karena pengajaran Yohanes yang merupakan penangkal yang kuat terhadap penganut Gnostik. Pengajaran ini bersinar melalui surat-surat Yohanes. Kita juga dapat melihat bahwa Yohanes sangat segaris dengan pengajaran Paulus tentang ciptaan baru dan perintah yang baru.

Kesimpulan

Seluruh Alkitab adalah Firman Allah dan sangat bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakukan dan mendidik dalam kebenaran, tetapi inti dari apa sebenarnya Perjanjian Baru itu dinyatakan melalui Paulus.

“Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah” (2 Tim 3:16). Tetapi kita harus membaca Alkitab dalam terang apa yang dikatakannya itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

Oleh: Åge M. Åleskjær

Former Senior Pastor at Oslo Christian Center, now spending most of his time ministering all over Norway and internationally.

Selanjutnya tentang Åge M. Åleskjær | Artikel oleh Åge M. Åleskjær