Orang Percaya sebagai Bejana Hadirat Allah

Oleh: Miscellaneous Authors
Dari: September-October 2010
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia
Pernahkan Anda merasa bahwa Anda butuh lebih banyak kasih bagi saudara-saudara yang belum diselamatkan di seluruh dunia? pernahkan Anda meminta kepada Allah untuk menjadikan Anda hamba Yesus Kristus yang lebih baik?

Saat saya masih bergabung dengan tentara Inggris dalam Perang Dunia I, sangat jelas Allah memanggil saya, meskipun saat itu saya merencanakan untuk berkarir pada bidang yang lain, untuk bergabung pada sebuah kelompok misi independen yang baru saja mulai di Afrika. Saya tidak lama berada disana karena saya merasa tidak mampu.

Bukannya saya suam-suam kuku bagi Yesus Kristus; bukan berarti saya telah berpaling pada hal yang lain. Saya adalah hamba-Nya dan seluruh keinginan saya tertuju pada mengenalkan saudara-saudara Afrika saya kepada-Nya.

Kekurangan yang saya rasakan dalam diri saya adalah mengenai kurangnya kasih. Saya sangat merasakan, saat saya bersama dengan mereka, bahwa saya tidak memiliki cukup kasih yang bisa menjembatani jurang yang ada. Hal itu mengarah pada kebutuhan akan iman - dan dengan hal itu mengarah pada kebutuhan akan kuasa. Semua hal ini saling terhubung.

Respon terhadap pesan kekristenan di Afrika Tengah, sama seperti di Amerika Serikat, tampak begitu besar. Tetapi dengan cepat saya temukan bahwa ada lebih banyak profesi dibanding dengan kepemilikan. Saya mulai berkata pada diri saya sendiri, Apakah kita membawa sesuatu yang benar-benar berharga pada orang Afrika? Apakah kita hanya membawa sebuah kode etik? Atau suatu liturgi, atau sejarah iman? Sudahkan kita mendapatkan sesuatu yang benar-benar bisa merubah untuk dibagikan pada orang lain?

Kemudian saya membuat pertanyaan tersebut menjadi hal pribadi, “Sudahkah saya?”

Saya pikir Dia seharusnya menyalurkan beberapa bagian dari kasih kedalam hati saya, beberapa bagian iman, beberapa bagian kuasa, beberapa bagian kekudusan — dan semakin meningkatkan saya.

Saat saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya temukan bahwa saat pelayanan Anda terganggu, hal itu juga cenderung mengganggu kehidupan pribadi Anda. Saya temukan diri saya, seperti yang juga diketahui oleh isteri saya, menjadi cepat marah di rumah dalam hal-hal yang biasanya tidak membuat saya marah – juga selalu mencela orang lain untuk menutupi kegagalan saya sendiri.

Saat saya ragu, mengajukan pertanyaan dan menyelidiki Alkitab untuk menemukan jawaban bagi ketidakcakapan saya, saya menemukan beberapa jawaban yang luar biasa. Beberapa diantaranya sangan mengejutkan saya. Hal itu telah merubah seluruh pandangan saya – dan pengalaman saya.

Saya tidak dapat menyebutnya sebagai pewahyuan karena hal-hal tersebut berdasarkan pada pewahyuan, disaksikan oleh Roh.

Untuk memulainya, sikap saya adalah bahwa Allah seharusnya meningkatkan kemampuan saya.

Saya berpikir bahwa Saya adalah hamba Yesus Kristus. Saya telah ditebus oleh kasih karunia-Nya, saya adalah milik-Nya. Saya harus minta kepada Allah untuk menjadikan saya hamba yang lebih baik bagi Yesus Kristus.

Saya pikir Dia seharusnya menyalurkan beberapa bagian dari kasih kedalam hati saya, beberapa bagian iman, beberapa bagian kuasa, beberapa bagian kekudusan — dan semakin meningkatkan saya.

Secara keras saya harus belajar bahwa peningkatan diri sendiri adalah dosa dan juga kemustahilan. Hal itu sangat mengejutkan bagi saya.

Tetapi meskipun pikiran saya tentang bagaimana Allah seharusnya menjawab permasalahan saya itu sepenuhnya salah, perasaan tentang ketidakmampuan yang saya miliki merupakan hal yang baik. Dan penemuan pertama yang saya dapatkan saat membaca salah satu ayat yang terkenal dalam surat 1 Yohanes: “Allah itu kasih.”

Seketika, kata ‘itu’ terlihat jelas. Hal yang muncul di dalam hati saya adalah seperti berikut: Tidak dikatakan bahwa Allah memiliki kasih, tetapi Allah itu kasih. Jika seseorang memiliki sesuatu, hal itu bukanlah dirinya sendiri. Itu adalah sesuatu yang melekat kepadanya, sama seperti kalau Anda memakai jaket atau memiliki sesuatu dalam kantong Anda. Anda hanya memilikinya dan Anda dapat membagikannya. Tetapi Alkitab tidak mengatakan bahwa Allah memiliki kasih, tetapi Allah itu kasih.

Saya Tidak Pernah Bisa Mengasihi!

Karena itu, kasih bukanlah sesuatu yang dapat saya miliki. Kasih adalah seorang Pribadi. Allah itu kasih. Karena itu tidak ada hal lain yang murni, kasih yang memberikan diri sendiri dalam alam semesta yang melampaui Dia Sendiri. Kasih secara eksklusif merupakan karakteristik dari satu Pribadi saja – dan pribadi itu bukanlah Norman Grubb.

Hal itu merupakan sebuah penurunan bagi saya. Sebelumnya saya berpikir bahwa kasih itu diimpartasikan pada saya, disalurkan pada saya, dan saya akan dapat lebih mengasihi. Tetapi, tiba-tiba saya menemukan Allah berkata, “Kamu tidak akan memiliki satu titik pun dari kasih. Akulah kasih, dan itulah akhirnya.”

Bukan Kristus memiliki kuasa, tetapi Dia adalah kuasa.

Kasih adalah seorang Pribadi; seorang Pribadi yang hanya mengasihi — dan pribadi itu bukanlah saya dan bukan Anda. Allah itu kasih dan karena itu Allah mengasihi.

Hal itu membuat sebuah jalan pemikiran yang baru. Saya mulai menghubungkan hal ini pada kebutuhan saya yang lain yaitu kuasa. Tiba-tiba saya temukan satu ayat dalam I Korintus 1 dimana dikatakan bahwa Kristus adalah kuasa Allah. Bukan Kristus memiliki kuasa, tetapi Dia adalah kuasa.

Sekali lagi, saya sebelumnya memiliki pemikiran bahwa kuasa adalah sesuatu yang diberikan kepada saya, karena itu saya akan menjadi hamba Yesus Kristus yang penuh dengan kuasa. Tiba-tiba saya juga menemukan bahwa kuasa itu juga seorang Pribadi. Dan pribadi itu bukanlah saya melainkan hanya Kristus, yang adalah Allah; tidak masalah apakah Anda memanggilnya Bapa, Anak atau Roh Kudus.

Kemudian saya sampai pada satu hal yang diklaim dimiliki oleh semua orang Kristen. Semua orang Kristen percaya menerima fakta bahwa diri mereka memiliki kehidupan kekal. Ia memiliki pemahaman bahwa ia memiliki sebuah kehidupan yang akan berlangsung sampai selamanya di Sorga. (“Karunia Allah adalah kehidupan kekal melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.”)

Tetapi tiba-tiba saya temukan bahwa kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang dapat saya miliki – karena Yesus tidak mengatakan, “Aku memiliki hidup untuk diberikan padamu” – tetapi, “Aku adalah hidup.”

Sekali lagi saya temukan bahwa sesuatu yang sebelumnya saya pikir saya miliki – kehidupan kekal – ternyata adalah satu pribadi saja, dan pribadi itu bukanlah saya. Yesus Kristus adalah “kehidupan kekal” itu.

Tetapi dimanakah hal ini ditemukan sehingga semuanya cocok?

Akhirnya saya sampai pada satu pernyataan yang menggabungkan semuanya dan juga mengakhiri investigasi saya karena adanya kepastian yang diberikannya. Ayat tersebut adalah Kolose 3:11, dimana dikatakan tentang orang percaya di dalam Kristus bahwa “Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”

Kristus adalah segalanya, bukan Kristus memiliki segalanya.

Dan kalau Kristus adalah segalanya, apa yang tersisa buat saya? Tidak banyak, menurut matematika saya.

Saya dulu berpikir bahwa saya adalah seseorang, dan sesuatu atau dapat mendapatkan sesuatu. Saya temukan bahwa Allah telah mengambil bagian itu. Kristus adalah segala sesuatu.

Kemudian saya mendapatkan hubungannya. Kristus adalah semua di dalam segala sesuatu.

Sekali lagi saya temukan bahwa sesuatu yang sebelumnya saya pikir saya miliki – kehidupan kekal – ternyata adalah satu pribadi saja, dan pribadi itu bukanlah saya.

Kemudian saya pertama kali melihat bahwa satu-satunya alasan dari keberadaan setiap ciptaan adalah untuk berisi Sang Pencipta! Bukan agar menjadi sesuatu, tetapi untuk berisi Seseorang.

Disanalah terbit sebuah kebenaran yang penting. Kita, manusia, secara alami menghargai diri manusia itu penting. Tetapi kita memiliki gagasan yang salah mengenai alasan tentang keberadaannya itu sendiri.

Sebuah distorsi yag besar sekali telah datang dalam setiap segi kemanusiaan. Hal itu adalah distorsi dari ego – dari diri sendiri. Meskipun kita merasa diri sendiri itu penting, semua hal ini menunjukkan pada saya bahwa diri sendiri itu sama sekali tidak penting.

Hanya ada satu Pribadi di alam semesta yang benar-benar penting. Saya hampir mengatatakan bahwa hanya ada satu Aku.

Mengapa? Karena hanya satu Pribadi dalam seluruh alam semesta yang pernah berkata, “AKU.”

hanya satu Pribadi dalam seluruh alam semesta yang pernah berkata, “AKU.”

Allah berkata ribuan tahun yang lalu bahwa itu adalah nama-Nya, saat Musa bertanya apa yang harus ia katakan saat bangsa itu bertanya, “Siapakah nama Tuhanmu?” (Keluaran 3:13, 14).

Kita diberi tahu bahwa akhir dari sejarah alam semesta adalah Allah Yang akan menjadi semua di dalam segala sesuatu! Lalu apa yang tersisa? Ini luar biasa.

Mengapa Kita Ada

Hanya ada satu Pribadi, dan manusia sebagai ciptaan dibawa dalam hidup persekutuan dengan yang Satu ini, sehingga Ia dapat memanifestasikan Diri-Nya sendiri dalam kesempurnaan hidup dan kasih-Nya melalui kita.

Semua ciptaan ada karena Roh harus memiliki sebuah tubuh yang digunakan untuk memanifestasikan Diri-Nya sendiri. Kitab suci mengatakan, “Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.” Mereka berkata bahwa Kristus naik “sehingga Ia dapat memenuhi segala hal.”

Jika ia memenuhi segala hal dan segala hal adalah bejana-Nya.

Jika ia memenuhi segala hal dan segala hal adalah bejana-Nya. Ini merupakan bahaya dari betapa tinggi dan rendahnya kemanusiaan.

Secara sederhana, tinggi adalah sebagai berikut: seluruh ciptaan dapat berisi manifestasi Allah; kita dapat memuat Allah sebagai seorang Pribadi. Seorang pribadi tidak dapat memanifestasikan dirinya sendiri sebagai seorang pribadi melalui hal yang lain kecuali seorang pribadi. Anda dapat berhubungan dengan anjing atau batu. Anda dapat menikmati keindahan dari atom atau dari sebuah batu berharga, tetapi Anda tidak dapat bersekutu dengannya. Tetapi saya dapat bersekutu dengan Anda karena kita memiliki riasan yang sama.

Allah dapat memanifestasikan keajaiban dan keindahannya melalui bunga dan pohon-pohon. Kita dapat melihatnya melalui mikroskop dan teleskop dan mengaguminya – tetapi kita tidak mengatakan, “Itu adalah Tuhan.”

Kekaguman yang terbesar, kepribadian yang tertinggi, adalah saat kita dapat melihat manusia dan berkata, “Allah ada disana.”

Bagian yang rendah, bahaya, dari kemanusiaan adalah kepribadian berarti kebebasan. Pilihan yang cerdas adalah inti dari kepribadian.

Karena itu, Allah tampaknya berada pada ujung tanduk dilema saat Ia menciptakan manusia. (Tentu saja Dia tidak seperti itu, karena Ia tahu pekerjaan-Nya dari awal sampai akhir.) Tetapi tampak sedemikian karena manusia yang Ia ciptakan tidak dapat berbalik dan berkata, “Terima kasih banyak, aku tidak mau Engkau hidup di dalamku.”

Itulah yang sebenarnya terjadi

Kita membuat diri kita menjadi Tuhan, bukan Tuhan sendiri. Secara alami kita menjalani hidup kita sendiri. Dan itulah masalah kita.

Kita membuat diri kita menjadi Tuhan, bukan Tuhan sendiri. Secara alami kita menjalani hidup kita sendiri. Dan itulah masalah kita..

Tidak ada masalah dalam kehidupan manusia selain daripada reaksi pribadi kita sendiri: tidak satupun.

Iblis bukanlah permasalahannya. Ia telah dibereskan pada 2000 tahun yang lalu.

Tetanggamu bukanlah masalahmu

Lingkungan bukanlah masalahmu

Masalahnya adalah reaksimu sendiri

Pribadi yang menyimpang, keluar dari jalur, adalah masalah kita.

Saat kita tahu bagaimana mengatur diri dan mengarahkannya kembali pada posisi yang seharusnya, maka kita telah menemukan kunci kehidupan.

Norman Grubb (1895 – 1993) adalah seorang misionaris, penulis dan pengajar. Dapatkan informasi selengkapnya tentang penulis di http://www.NormanGrubb.com.

Artikel ini diambil dari sebuah artikel yang berjudul “ The Key to everything.”