Dua Artikel

Oleh: Steve McVey
Dari: March 2010
Ditemukan dalam: Injil Kasih Karunia

Berikut ini kami persembahkan dua artikel pendek berisi pengajaran dari Steve McVey, keduanya memiliki fokus berpegang pada Injil, bukan pada agama.

Hilangkan Agama Anda

Sudah bertahun-tahun saya kehilangan agama saya dan saat ini saya menjadi lebih baik. Saya tidak melebih-lebihkan tentang hal ini. Saya bersungguh-sungguh. Kadang orang-orang bertanya kepada saya, “Apa maksudmu berkata kehilangan agamamu?” Jawabannya sederhana.

Terikat oleh Agama

Dengan mengerti arti sesungguhnya dari kata “agama/religion” akan menolong untuk bisa menjelaskan pernyataan saya. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut diambil dari bahasa Latin relgio, yang memiliki arti “kewajiban” atau “ikatan.” Kemungkinan kata tersebut diturunkan dari kata kerja religare, yang berarti “mengikat erat.” (Diambil dari The Dictionary of Word Origins, oleh John Ayto). Asal kata “agama” menjelaskan masalah tersebut. Agama mengikat manusia dengan erat, mewajibkan mereka mentaati suatu rangkaian standar dan perilaku. Sejalan dengan waktu, kata tersebut dihubungkan dengan kewajiban yang dimiliki manusia terhadap dewa-dewa kuno.

Agama adalah sebuah rumah kaca untuk legalisme karena berfokus pada tugas dan kinerja.

Dalam terminologi modern, kata kata itu menunjukkan ide melakukan tindakan tertentu dengan tujuan dalam pikiran untuk mendapatkan pertolongan ilahi. Agama adalah sebuah rumah kaca untuk legalisme karena berfokus pada tugas dan kinerja. Menempatkan kewajiban pada manusia untuk menggapai Tuhan dengan usahanya. Meletakkan ikatan pada manusia, sehingga membuat mereka berada dalam perbudakan.

Kekristenan yang sejati dalam banyak hal berbeda dengan agama. Sebuah komentar yang baru-baru dikeluarkan mengenai tinju menggambarkan apa yang saya maksud. Seseorang berkata, “Bagi saya, tinju seperti balet, kecuali tidak ada musik, tidak ada koreografi dan para penari saling memukul.” Perbandingan yang diberikan antara tinju dan balet menggambarkan kesatuan yang ada antara Kekristenan yang sejati dengan agama legalistik. Tidak ada sama sekali.

Tindakan Allah itu cukup

Kekristenan yang sejati didasarkan pada Injil. Kata “Injil” berarti “kabar baik.” Apa itu kabar baik? Bahwa kita tidak lagi harus mencoba untuk menggapai Tuhan melalui tindakan kita, tetapi Allah yang bertindak untuk mempersatukan kita dengan Dia. Ini adalah kabar baik bahwa Allah telah mengulurkan tangan kepada kita melalui pribadi Yesus Kristus. Ini adalah kabar baik bahwa salib dan kubur kosong cukup untuk membuat Allah untuk merobek kartu skor kehidupan Anda dan menyatakan permainan telah berakhir – dengan Anda sebagai pemenang. Yang kita butuhkan hanyalah percaya pada karya yang telah diselesaikan Kristus. Itu saja – tidak ada yang lain. Para murid pernah bertanya kepada Yesus, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yohanes 6:28-29). Percaya – itu saja. Beberapa orang mungkin bertanya, “Bukankah kita harus melakukan hal-hal tertentu?” Jawabannya adalah kita akan melakukan hal-hal tertentu, bukan karena kita sedang mencoba mendapatkan nilai dari Allah, tetapi karena hal itu merupakan bagian dari DNA rohani kita untuk menghasilkan perbuatan baik. Sebagian orang mungkin salah berpikir bahwa kita sedang berperilaku agamawi, tapi sebenarnya tidak. Kita hanya bertindak seperti siapa kita sebenarnya – wadah dan saluran kehidupan ilahi.

Perlukah membuang agama Anda?

Agama akan mewajibkan Anda untuk bekerja bagi Allah, tetapi Yesus akan membebaskan Anda untuk melayani karena kasih.

Agama akan membelenggu Anda. Yesus Kristus akan membebaskan Anda. Agama akan mewajibkan Anda untuk bekerja bagi Allah, tetapi Yesus akan membebaskan Anda untuk melayani karena kasih. Agama akan membuat Anda lelah. Yesus akan terus menerus menyegarkan jiwa Anda dengan kehidupan ilahi. Ya, saya telah kehilangan agama saya. Akibatnya, saya menjadi semakin intim dalam mengenal Yesus. Saya tidak akan menggantikan pengenalan tersebut dengan agama apapun di dalam dunia ini. Saya masih melakukan banyak hal yang bagi orang lain mungkin terlihat agamawi, tapi bukan itu maksudnya. Saya hanya menikmati Yesus dan melakukan apa yang saya inginkan (yang memang bertepatan dengan apa yang la inginkan). Apakah Anda perlu membuang agama Anda? Anda akan menemukan diri Anda menjadi jauh lebih baik bila Anda menemukan hidup Anda di dalam Kristus. Ayo, lakukan saja. Ucapkan selamat tinggal kepada belenggu yang terikat pada kewajiban agama dan jatuh ke dalam tangan Yesus Kristus. Anda tidak akan menyesal.
.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Belajar untuk Lebih Lagi Mengasihi Tuhan

Baru-baru ini saya mendengar khotbah online yang meratapi kenyataan bahwa orang Kristen tidak mengasihi Allah dengan cara yang seharusnya. “Bagaimana mungkin Anda mengharapkan akan dipakai oleh Allah jika Anda tidak sepenuhnya mengasihi-Nya?” kata sang pengkotbah dengan penuh semangat. Pesannya mengingatkan saya pada banyak khotbah yang serupa yang dulu pernah saya khotbahkan, namun hal itu lebih mengingatkan saya tentang bagaimana selama bertahun-tahun saya berjuang untuk mengasihi Tuhan dengan cara yang saya rasa harus saya lakukan.

Hukum Terutama

Merupakan upaya yang tulus untuk mengasihi Tuhan, tetapi begitu sering hal ini menjadi salah arah. Seorang pengacara pernah datang kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya, ” “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Perhatikan apa yang ditanyakan oleh orang tersebut. Dia bertanya tentang hukum Taurat. Yesus menjawab pertanyaannya dengan mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Menanggapi pertanyaan orang itu tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan. Ayat ini telah sering kali disalahgunakan oleh orang-orang Kristen yang sebenarnya bermaksud baik karena mereka gagal untuk memahami konteksnya. Sangat penting untuk dicatat bahwa orang itu bertanya pada Yesus tentang hukum Taurat. Seaneh yang terlihat, saat kita percaya bahwa kebutuhan kita yang terbesar adalah mencoba untuk lebih mengasihi Allah, kita sedang menetapkan diri pada kegagalan. Karena memang itu yang dilakukan hukum Taurat pada seseorang.

Jadi jika Anda berfokus pada seberapa besar Anda harus mengasihi Tuhan, hukum Taurat itu akan menghukum Anda dan menyebabkan diri Anda dipenuhi dengan rasa bersalah.

Alkitab mengatakan bahwa Hukum Taurat membangkitkan nafsu dosa (Lihat Roma 7:5). Hukum Taurat merangsang pemberontakan terhadap hal yang dituntut olehnya. Jadi jika Anda berfokus pada seberapa besar Anda harus mengasihi Tuhan, hukum Taurat itu akan menghukum Anda dan menyebabkan diri Anda dipenuhi dengan rasa bersalah. Tidaklah mungkin untuk mengasihi Dia seperti yang kita inginkan sampai kita memahami betapa Ia mengasihi kita. Setelah itu, dan hanya setelah itu, kita akan menemukan kasih untuk Tuhan itu meluap dalam hati kita.

Pernahkah Anda menemukan hal ini nyata dalam kehidupan Anda sendiri? Bila Anda telah berfokus untuk lebih mengasihi-Nya, apakah Anda merasa Anda berhasil melakukannya? Atau apakah Anda malah menemukan diri Anda sungguh-sungguh berdoa untuk minta pertolongan agar dapat mengasihi Dia lebih lagi? “Tuhan, bantu aku untuk lebih mengaihi-Mu” merupakan bukti bahwa Anda tidak mampu dalam hal itu.

Bagaimana Agar Bisa Lebih Lagi Mengasihi Tuhan

Alkitab mengatakan, “Kita mengasihi, karena Dia lebih dahulu mengasihi kita” Apakah Anda ingin lebih lagi mengasihi Tuhan? Kalau begitu kuncinya adalah fokus pada seberapa besar Dia mengasihi Anda, bukan pada seberapa besar Anda mengasihi Dia di setiap saat dalam kehidupan. Hal yang paling penting dalam hidup Anda bukanlah harus berjuang untuk mengasihi Tuhan. Dengan kekuatan apa Anda dapat melakukan hal itu? Bukankah kita semua berjuang dalam area itu? Rahasianya adalah mulai berfokus pada seberapa besar Bapa sorgawi mengasihi Anda.

fokus pada seberapa besar Dia mengasihi Anda, bukan pada seberapa besar Anda mengasihi Dia

Bersamaan dengan bertambahnya pemahaman Anda mengenai betapa besarnya kasih yang Dia miliki bagi Anda, Anda akan menemukan bahwa kasih yang ada dalam diri Anda akan dibangkitkan dan termotivasi. Sebagai respon dari kasih-Nya, kasih Anda akan tumbuh dan berkembang sehingga Anda akan menemukan diri Anda semakin mengasihi-Nya, oleh karena itu, Anda bahkan akan lebih mengasihi semua orang yang ada di sekitar Anda.

Pandangan legalistis terhadap hubungan kasih yang kita miliki dengan Bapa menjauhkan fokus kita dari kebaikan dan kasih karunia-Nya serta meletakkan tanggung jawab pada diri kita. Kasih karunia mengingatkan kita bahwa Dia adalah pencetus dan kita merupakan responden. Alkitab mengatakan bahwa Allah mengasihi kita, semua itu tentang kasih-Nya bagi kita, dan ketika kita fokus pada hal itu dan bukan pada kasih kita kepada-Nya, kita akan menemukan bahwa mengetahui kasih Allah kepada kita menjadi katalis untuk mengalami dan menikmati kasih-Nya dengan cara yang lebih dalam daripada yang pernah kita kenal. Kita akan menemukan bahwa kasih kita kepada-Nya bertumbuh dengan pesat dengan sendirinya.

Oleh: Steve McVey

Dr. Steve McVey is a dynamic author and speaker who inspires Christians to develop a deeper, more intimate relationship with God.

Selanjutnya tentang Steve McVey | Artikel oleh Steve McVey