Tanya & Jawab Berkaitan dengan...

Jaminan Keselamatan

+Phil 2:12 says that we must work out our own salvation with fear and trembling. How does it fit into the teaching that salvation is by grace through faith?

Here it is important to notice that this scripture doesn’t tell us to work for our own salvation, but work out our own salvation. Many other scriptures clearly say we are not saved by works but by faith (Rom 3:28, Gal 2:16, Eph 2:8), and these scriptures are still valid as we look to understand Phil. 2:12. The message of the New Covenant is clear: we cannot work for our salvation – to obtain salvation. However, after we are saved and salvation is already in us, it shall now be worked out until it becomes visible in our soul (emotions, thoughts and will), body and lifestyle.
after we are saved and salvation is already in us, it shall now be worked out until it becomes visible in our soul (emotions, thoughts and will), body and lifestyle
Salvation in us brings healing to both our wounded soul and our body, as well as transforms our lifestyle and makes our eyes shine. However, even this is not possible with self-effort and our works. That is why in the New King James Bible there is no final end at the end of Philippians 2:12. Rather, the Bible shows that the sentence is not finished, and it continues in verse 13: “for it is God who works in you both to will and to do for His good pleasure.” Salvation has been put in us, and now God is at work in us to make it become visible for everyone around us, even for ourselves.


Bagaimana Anda bisa berkata bahwa semua dosa diampuni padahal Alkitab mengatakan dalam Matius 12:31-32 bahwa hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak?

Hal ini dapat dimengerti dengan melihat konteks dari ayatnya. Pertama, Yesus berbicara mengenai orang Farisi dan bukan para murid. Dosa ini tidak dapat dilakukan oleh orang Kristen.

Kedua, sebenarnya dosa apa yang sedang dibicarakan disana? Ayat 22-23 mengatakan bagaimana orang banyak melihat mukjizat yang dilakukan Yesus dan mereka mulai percaya bahwa Yesus berasal dari Allah. Setelah itu orang-orang Farisi mengatakan bahwa roh di dalam Yesus bukanlah dari Allah tetapi dari penghulu setan. Orang-orang Farisi mengakui Yesus sebagai anak manusia teta[i tidak sebagai Anak Allah. Dalam konteks ini sangat jelas terlihat bahwa hujat terhadap Roh Kudus adalah menyangkal Yesus berasal dari Allah.

Diatas kayu salib, Yesus menanggung seluruh dosa dunia, kecuali SATU dosa. Yohanes16:8-9 mengatakan bahwa satu-satunya dosa yang masih tertinggal adalah tidak percaya Yesus. Ini adalah satu-satunya dosa yang belum diampuni dan tidak akan pernah diampuni, karena itu orang perlu untuk bertobat dari dosa ini (dengan merubah pemikiran/kepercayaan mereka) dan percaya kepada Yesus. Dengan demikian pastilah mereka diselamatkan, karena siapapun yang percaya dan mengakui Yesus akan diselamatkan.


Beberapa pengajaran mengatakan bahwa tidaklah cukup bahwa Yesus sebagai Juru Selamat saja, kecuali kalau juga menjadikan Dia sebagai Tuhan, kalau tidak demikian Anda tidak akan diselamatkan. Apakah hal ini benar?

Ada beberapa kesalahpahaman mengenai Roma 10:10, dimana orang menekankan bahwa memiliki Yesus sebagai Tuhan tergantung pada gaya hidup Anda. Akan tetapi, kita tidaklah diselamatkan karena perbuatan kita, tetapi karena perbuatan Yesus. Dia adalah Anak Domba Allah yang sempurna yang menanggung seluruh penghukuman dari ketidaksempurnaan kita.

Saat Roma 10:10 berbicara tentang mengakui Yesus sebagai Tuhan, dengan kata lain berbicara tentang Yesus adalah Tuhan. 1 Kor 12:3 juga mengatakan bahwa tidak seorangpun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan selain oleh Roh Kudus. Mengakui Yesus sebagai Tuhan berhubungan dengan mempercayai, bukan melakukan. Maka kita percaya bahwa kepercayaan yang benar membawa pada tindakan yang benar; ini adalah buah dari ciptaan baru dan hidup yang baru.


Yohanes 15:2 mengatakan bahwa yang tidak menghasilkan buah akan dipotong. Bukankah ini berarti jika orang tidak memiliki buah maka mereka akan kehilangan keselamatannya?

Jika memang demikian maka kita harus mengatakan bahwa dasar dari keselamatan adalah “Yesus + kita menghasilkan buah.” Sebagian besar orang akan berkata “tidak” untuk hal ini, karena kita tahu bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman didalam Yesus. Dasar dari keselamatan kita adalah “Yesus + tidak ada yang lain.”  Banyak ayat menyatakan hal ini dengan jelas: Ef 2:8-9, Gal 2:16, Kis 16:30-31, Yoh 1:12, Rom 10:9-10, Rom 10:13, 1 Yoh 5:11-13.

Akan tetapi, terkadang orang berpikir bahwa dasar untuk mempertahankan kesematan mereka itu berbeda; maka menjadi “Yesus + usaha kita/buah/gaya hidup.” Saat kita melihat ayat-ayat semacam ini, kita harus lebih berhati-hati dalam mempelajarinya karena kita tidak dapat menambahkan apapun terhadap apa yang telah dilakukan Yesus. Dia adalah satu-satunya dasar bagi keselamatan kita.

Bahasa Yunani untuk kata “dipotong” dalam Yohanes 15:2 adalah aino. Kata ini memiliki tiga arti: “memotong,” “membawa pergi,” dan “meninggikan/mengangkat.” Saat Alkitab mengatakan bahwa Yesus akan ditinggikan, bahasa Yunani yang digunakan adalah aino. Jika kita menggunakan pengertian ini, Yohanes 15:2 bisa dibaca: “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, diangkat-Nya.”

Hal ini terkadang juga dilakukan pada ranting pohon secara harafiah. Jika sebuah ranting lemah, maka ranting itu akan dihubungkan dengan ranting yang kuat diatasnya sehingga ranting itu dapat terus tumbuh dan mengkasilkan buah. Ini juga yang diperintahkan Paulus dalam Roma 14 dan 15 – bahwa yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat.

Kasih Karunia

+What exactly is legalism?

We define legalism as a system of living in which a person tries to make spiritual progress or gain God’s acceptance based on what they do. Legalism is focused on behaviour and is therefore an achieving system. Legalism is the opposite of grace. Grace is a system of living in which God blesses us because we are in Jesus Christ and for no other reason at all. Grace is focused on our spiritual birth and is therefore a receiving system. Consider a couple of Scriptures: "Christ redeemed us from the curse of the Law, having become a curse for us" (Galatians 3:13). "For the grace of God has appeared, bringing salvation to all men, instructing us to deny ungodliness and worldly desires and to live sensibly, righteously and godly in the present age" (Titus 2:11-12).

+Does grace lead to a lawless attitude in the Christian life?

The simple answer to this question is "No way!" The Christian who is truly walking in grace is not an antinomian ("one who opposes the Law"). Rather, the person who is walking in grace has great respect for the God-ordained purpose of the Law. In Romans 7:12, Paul said, "So then, the Law is holy, and the commandment is holy and righteous and good." Grace-oriented Christians are not "Law-bashers," but, they do understand that the Law has no place in the life of the Christian. Consider the following Scriptures: "Therefore, my brethren, you also were made to die to the Law through the body of Christ, that you might be joined to another, to Him who was raised from the dead, that we might bear fruit for God" (Romans 7:4). "In order that the Law might be fulfilled in us, who do not walk according to the flesh, but according to the Spirit" (Romans 8:4). "Realizing the fact that law is not made for a righteous man, but for those who are lawless and rebellious" (I Timothy 1:9).

+If we are forgiven of our sins past, present, and future at the time of salvation won't that lead to a sinful lifestyle?

This is not a new question. In fact, this was the essence of the concern of those in Paul’s own day who asked, "Are we to continue in sin that grace might increase?” (Romans 6:1). Coming to understand the totality of forgiveness should never lead the believer into a sinful lifestyle. Grace doesn't work that way. Grace enables us to walk in obedience. Grace moves us toward righteousness. Grace overpowers sin. Rules, regulations, and rigorous self-discipline will not keep us from sin but an authentic love relationship with Jesus will.

+Does the teaching of grace lead to passivity in the Christian life?

One of the most common misunderstandings about the grace walk is that it teaches passivity in the life of the Christian. Nothing could be farther from the truth. The grace walk is an active lifestyle energized not by the energy of the flesh but by the energy of the indwelling life of Christ. Consider the example of the apostle Paul. Paul trusted Christ to live His life through him (Romans 15:18) while leading an extremely active lifestyle. Notice Paul's description of his lifestyle in Colossians 1:29, "And for this purpose also I labour, striving according to His power, which mightily works within me." Paul was not passive; he was active. The words "labour" and "striving" in the original language refer to weariness to the point of physical exhaustion. Yet it was not done in the energy of the flesh, it was "according to His (Jesus) power," which was at work within Paul.

+In light of grace exactly how does one live the Christian Life?

The key to victory in the Christian life lies in acknowledging that you cannot live the Christian life out of your own resources or abilities. Only one person has ever lived the Christian life as God intended and that was Jesus Himself! However, there is good news: Jesus wants to live His victorious, overcoming life through you. Perhaps no verse says it more clearly than Galatians 2:20, "I have been crucified with Christ; and it is no longer I who live, but Christ lives in me; and the life which I now live in the flesh I live by faith in the Son of God, who loved me, and delivered Himself up for me." We live the Christian life by yielding (surrendering) moment-by-moment to Christ, trusting Him to animate us with His very life.


Tidak berbahayakah terlalu menekankan kasih karunia bila dikaitkan dengan kedewasaan rohani dan kekudusan pribadi?

Pewahyuan tentang kasih karunia adalah pewahyuan tentang Yesus dan sama sekali tidak berbahaya bila terlalu menekankan tentang Yesus. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa orang percaya akan berkuasa dalam hidup oleh karena “kelimpahan kasih karunia” (Roma 5:17) dan kasih karunia yang sama yang mendidik kita supaya kita hidup beribadah (Titus 2:12). Jika kita ingin agar orang bisa hidup kudus, kita harus menyatakan kelimpahan kasih karunia Yesus, karena kasih karunia yang bisa menghasilkan kekudusan dan kedewasaan rohani. Mereka yang kuatir tentang terlalu menekankan kasih karunia seringkali memandang kasih karunia Yesus hanya sebagai salah satu topik pengajaran semata. Akan tetapi, pewahyuan tentang kasih karunia adalah pewahyuan tentang Yesus sendiri dan kekudusan yang sejati hanya dihasilkan melalui Yesus yang hidup melalui kita.


Akankah pengajaran yang menitik beratkan pada kasih karunia dan kebenran membuat orang semakin banyak berbuat dosa?

Tidak, kebenaran ini tidak akan membuat orang bebas untuk berbuat dosa tetapi akan membuat orang bebas dari gaya hidup dosa. (Roma 5:17, 2 Korintus 3:9) Hal ini tidak akan membuat orang lebih banyak berbuat dosa tetapi lebih sedikit berbuat dosa. Penjelasan lebih jauh dari pertanyaan ini dapat dilihat pada artikel pengajaran.

Hukum Taurat Musa


Bagaimana mungkin Anda mengatakan Hukum Taurat Musa telah berakhir sedangkan Yesus berkata dalam Matius 5:18 bahwa “hukum Taurat tidak akan ditiadakan sebelum semuanya terjadi?”

Jawaban untuk pertanyaan ini terdapat pada ayat sebelumnya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17). Yesus sendiri adalah penggenapan dari Hukum Taurat. Dia bahkan meningkatkan standarnya menjadi lebih tinggi (Matius 5:20-22), dan hanya Dialah satu-satunya yang mampu melewati “lubang jarum” yang kecil itu (Matius 19:24-26). Ketentuan-ketentuan itu telah ditiadakan dengan memakukannya pada kayu salib (Kol. 2:14) dan Yesus menjadi kegenapan Hukum Taurat bagi kebenaran (Rom 10:4, Ibr 7:18-19). Perjanjian Lama telah digantikan dengan perjanjian baru dimana segalanya berdasarkan pada Yesus.


Meskipun Hukum Taurat Musa tidak dapat menyelamatkan kita, dapatkah hal itu membantu kita untuk meningkatkan kualitas hidup setelah kita lahir baru?

Jika hal itu tidak mampu menyelamatkan kita, maka juga tidak akan mampu meningkatkan kualitas hidup kita. Hukum Taurat bagaikan cermin yang terus menerus mendakwa kita dan menunjukkan kesalahan kita, tetapi cermin tidak mengulurkan tangannya membantu agar kita bisa berubah. Kita harus melakukannya dengan kekuatan kita sendiri, tetapi hal itu hanya akan bertahan sesaat saja. Itulah mengapa mengapa Yesus datang. Roma 8:3-4 mengatakan bahwa apa yang tidak mungkin dilakukan oleh Hukum Taurat, Yesus melakukannya! Dia memberi kita hati yang baru (Yeh. 36:26-27), kemudian Dia sendiri tinggal di dalam kita dan menghidupi hidup yang benar di dalam kita. Solusi bagi kita saat ini bukanlah mencoba untuk meningkatkan kualitas hidup kita, tetapi bahwa Kristus nyata di dalam kita (Gal 4:19). Hukum Taurat hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus (Kol. 2:17, Ibr. 10:1). Mengapa kita berpegang pada Hukum Taurat, pada bayangan, saat kita memiliki yang LEBIH BAIK – Kristus di dalam kita!


Mengapa semua ini berfokus agar kita terbebas dari Hukum Taurat Musa?

Pertanyaan ini membutuhkan waktu yang panjang untuk menjawabnya, tetapi mari kita melihat tiga dari alasan yang ada:

1) Hukum Taurat memberikan persyaratan untuk mendapat berkat dari Tuhan. Jika kita memperhatikan diri kita, semua orang pasti gagal. Akan tetapi, Injil menyatakan bahwa segala sesuatu telah diberikan dengan cuma-cuma bagi kita oleh Kristus. Saat orang melihat bahwa tidak ada syarat lain selain iman di dalam Kristus, hal itu membuat mereka lebih mudah untuk menerima apa yang telah menjadi milik mereka!

2) Hukum Taurat membuat orang semakin banyak berbuat dosa, bukannya malah semakin berkurang (Rom 7:7-8, 7:13). Faktanya 1 Kor. 15:56 menyatakan bahwa kuasa dosa adalah Hukum Taurat. Akan tetapi, saat orang bisa melihat bahwa mereka berada dibawah kasih karunia dan bukan dibawah Hukum Taurat dosa kehilangan kekuasaan atas hidup mereka (Rom 6:14, Rom 5:17).

3) Kami ingin menyampaikan Injil murni dari Kristus kepada banyak orang, dengan tanpa adanya pencampuran dengan legalisme.


+Mark 11:26 says that if you do not forgive, neither will your Father in heaven forgive your trespasses. Does this mean that if people have problems to forgive they are in danger of losing their salvation?

Some people get big problems with this scripture, as the abuses they have suffered are so terrible that they say they are not able to forgive even if they want to. Does God put another burden on their shoulders, telling that He will not forgive them if they do not forgive first? The truth is that this is the pattern of the old covenant, saying that you need to forgive first. In the old covenant we had to do our part first in order for God to do His part, but in the new covenant God has already done His part! That is the good news!

Let’s look at what the new covenant says about forgiveness:

“And be kind to one another, tenderhearted, forgiving one another, just as God in Christ forgave you.” (Ephesians 4:32)

“bearing with one another, and forgiving one another, if anyone has a complaint against another; even as Christ forgave you, so you also must do.” (Colossians 3:13)

Here we can see that forgiveness is still important, but the order has changed! God has forgiven us first, and that enables us to now forgive others.

God has forgiven us first, and that enables us to now forgive others.
Make no mistake, forgiveness is very important, even in order for us to set ourselves free and to allow God’s healing to completely restore us. And this will often be a process. You see, there are some people who have not forgiven others, but there are also many people who have not forgiven themselves for what they have done wrong! And it may eat them up on the inside. How relieving it is to know that God has already forgiven us first! As we understand more of this truth, it becomes easier for us to forgive others and even forgive ourselves.


Bisakah saya bertumbuh dalam kebenaran?

Tidak, Anda tidak dapat bertumbuh didalam kebenarannya Tuhan. Akan tetapi pengertian tentang kebenaran yang Anda miliki dapat bertumbuh, itulah yang dikatakan Ibrani 5:13 mendewasakan kita sebagai orang Kristen.


Apakah saat di surga nanti saya akan menjadi lebih benar daripada di dunia sekarang ini?

Tidak, Anda sama benarnya baik sekarang maupun di surga nanti. Anda telah menjadi orang benar secara sempurna. Saat Anda meninggal, Anda hanya berpindah dari tubuh Anda masuk ke surga, dan nanti Anda akan menerima tubuh surgawi yang baru. Meskipun demikian, roh Anda dan kedudukan Anda di hadapan Tuhan telah menjadi baru dan sempurna, dan akan tetap seperti itu di surga.


Dapatkah seseorang kehilangan kebenarannya?

Kita tidak pernah menerima kebenaran karena usaha atau gaya hidup kita sendiri, tetapi hanya melalui kasih karunia oleh iman di dalam Yesus. Dengan cara yang sama kita tidak akan pernah kehilangan kebenaran kita berdasarkan tindakan dan gaya hidup kita. Karena kita memiliki Yesus maka kita sepenuhnya benar dihadapan Tuhan. Kebenaran ini membawa kita kedalam jaminan keselamatan. Saya mengerti bahwa kebenaran adalah karunia dari Allah, dan bahwa seseorang tidak akan kehilangan kebenarannya jika ia berbuat dosa. Akan tetapi jika seseorang berbuat dosa, apakah akan ada ‘titik hitam’ dalam kebenarannya? Apakah Yesus pernah mendapatkan “titik hitam” pada kebenaran-Nya? Karena Dia adalah kebenaran Anda, maka kebenaran Anda tidak akan pernah memiliki “titik hitam”, sekalipun Anda berbuat dosa. (1 Korintus 1:30, Roma 8:33-34)


Saya mengerti bahwa kebenaran adalah karunia dari Allah, dan bahwa seseorang tidak akan kehilangan kebenarannya jika ia berbuat dosa. Akan tetapi jika seseorang berbuat dosa, apakah akan ada ‘titik hitam’ dalam kebenarannya?

Apakah Yesus pernah mendapatkan “titik hitam” pada kebenaran-Nya? Karena Dia adalah kebenaran Anda, maka kebenaran Anda tidak akan pernah memiliki “titik hitam”, sekalipun Anda berbuat dosa. (1 Korintus 1:30, Roma 8:33-34)


Akankah pengajaran yang menitik beratkan pada kasih karunia dan kebenran membuat orang semakin banyak berbuat dosa?

Tidak, kebenaran ini tidak akan membuat orang bebas untuk berbuat dosa tetapi akan membuat orang bebas dari gaya hidup dosa. (Roma 5:17, 2 Korintus 3:9) Hal ini tidak akan membuat orang lebih banyak berbuat dosa tetapi lebih sedikit berbuat dosa. Penjelasan lebih jauh dari pertanyaan ini dapat dilihat pada artikel pengajaran.


Sebagai orang Kristen, apakah kita adalah orang berdosa yang telah diampuni?

Tidak. Ini mungkin merupakan jawaban yang mengejutkan bagi sebagian orang, jadi mari kita melihatnya sedikit lebih dalam. Menurut Roma 5:19 kita semua menjadi orang berdosa karena dosa satu orang (Adam), dan kita menjadi orang benar melalui ketaatan satu orang (Yesus). Saat kita lahir baru, manusia lama (orang berdosa) mati dan manusia baru (orang benar yang merupakan ciptaan baru) lahir. Kita sekarang disebut orang-orang kudus dan benar, bukan lagi orang berdosa. Lalu siapa orang berdosa yang diampuni, kalau hal itu bukanlah Gereja? Itu adalah semua orang di dalam dunia yang belum lahir baru. Betapa luar biasanya kabar yang kita miliki bagi mereka: “ANDA TELAH DIAMPUNI OLEH TUHAN! Yesus juga telah membayar lunas dosa-dosa Anda, tidak peduli apa yang pernah Anda lakukan! Maukah Anda menerima Dia sebagai Juru Selamat Anda dan menerima karunia kebenaran serta hidup yang baru dari Dia?”

Perjanjian Lama vs Perjanjian Baru


Kapankah perjanjian lama dimulai? Apakah sejak kitab Kejadian yang merupakan kitab pertama dalam Alkitab?

Alkitab mengandung banyak perjanjian. Perjanjian yang disebut sebagai perjanjian lama tidak dimulai dari Adam atau Abraham, tetapi dari Musa. Perjanjian lama didasarkan pada Hukum Taurat yang diberikan kepada Musa, serta disahkan dengan darah lembu dan kambing. (Ibr 9:18-20) Ini adalah perjanjian yang ditetapkan antara Tuhan dengan bangsa Israel.


Kapankah perjanjian baru dimulai? Pada saat kelahiran atau kematian Yesus?

Beberapa orang berpikir bahwa perjanjian baru dimulai pada saat Yesus lahir, yang juga merupakan cara pembagian Alkitab menjadi dua bagian: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Akan tetapi, Alkitab mengatakan bahwa perjanjian baru tidak dapat dimulai sebelum Yesus mati dan mencurahkan darah-Nya. Perjanjian dari Allah adalah “perjanjian darah.” Bahkan perjanjian lama tidak dapat disahkan tanpa adanya darah. (Ibr 9:15-22). Perjanjian baru hanya dapat ditetapkan saat Yesus mencurahkan darah-Nya untuk pengampunan dosa-dosa kita. (Ibr 9:23-27) Yesus sendiri berkata “inilah darah-Ku, darah perjanjian.” (Mat 26:28) Jadi perjanjian baru tidak dimulai saat Yesus lahir tetapi pada kematian, kebangkitan Yesus serta pencurahan Roh Kudus. Bagaimanapun juga, saat Yesus masih berjalan di muka bumi ini, Dia telah menanggung dosa-dosa dunia, karena itu beberapa keuntungan dari perjanjian baru dapat diberikan lebih dulu pada beberapa orang.


Apakah saat ini perjanjian lama masih berlaku, berjalan bersama perjanjian baru?

Tidak, perjanjian lama hanya berlaku sampai salib Yesus. Darah lembu dan kambing tidak pernah bisa menghapus dosa, hanya darah Yesus yang bisa melakukannya. (Ibr 10:4, Ibr 9:24-28).  Jadi hukum Taurat hanyalah bayangan dari keselamatan yang akan datang, hakekat dari keselamatan itu sendiri datang bersama Kristus. (Ibr 10:1) Allah mengakhiri perjanjian lama dan menetapkan perjanjian baru. (Ibr 10:9, 8:6-8, 8:13) Perjanjian lama berakhir pada salib Yesus. Pengorbanan menurut perjanjian lama sudah tidak berlaku lagi sekarang, dan hal itu tidak pernah mampu menghilangkan dosa. Begitu juga dengan Hukum Taurat dari perjanjian lama saat ini tidak berlaku lagi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Kita diselamatkan dan diberkati karena Yesus, dan bukan karena usaha kita sendiri. (Ef 2:8-9, Rom 10:3-4, Gal 2:16; 3:5; 3:13-14)


Coba jelaskan Ibrani 10:26: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.”

Surat Ibrani ditulis bagi bangsa Ibrani – bagi bangsa Yahudi yang telah menerima Yesus. Kita dapat melihat bahwa keseluruhan surat tersebut membandingkan antara perjanjian lama dengan perjanjian baru, dan menggambarkan bagaimana Yesus merupakan Imam Besar yang lebih baik, korban yang lebih baik, jaminan bagi perjanjian yang lebih baik, dsb. Ini adalah konteks dari Ibrani pasal 10. “Sengaja berbuat dosa” dalam konteks ini bukanlah sembarang dosa, tetapi merupakan dosa meninggalkan Yesus dan kembali pada Yudaisme dan perjanjian lama. Hal ini bukan dengan alasan yang sembarangan, tetapi karena mereka percaya bahwa darah Yesus merupakan darah biasa dan tidak memiliki nilai apapun. Bukan pada orang yang sembarangan, tetapi orang yang telah sangat diterangi dan banyak mengalami kuasa Injil. Satu-satunya permasalahan dengan kembali pada perjanjian lama adalah karena tidak ada lagi pengorbanan lain yang bisa dilakukan untuk menebus dosa. Pengorbanan dalam perjanjian lama tidak berlaku lagi (bagaimanapun juga hal itu tidak pernah cukup). Satu-satunya pengorbanan yang sah untuk dosa pada saat ini adalah darah Yesus. Pastinya, jika mereka mau kembali kepada Yesus maka pengorbanan-Nya masih tersedia bagi mereka. Satu-satunya dosa yang tidak ditebus di kayu salib adalah dosa karena “tidak percaya kepada Yesus.” (Yohanes 16:9)


Apakah ada alasan untuk tetap membaca Perjanjian Lama, mengingat kita sudah berada dalam Perjanjian Baru? Bukankah kita hanya perlu membaca Perjanjian Baru saja?

Ada banyak alasan mengapa perlu membaca Perjanjian Lama. Disana Yesus dinyatakan dalam semua kitab melalui lambang, gambaran dan nubuatan. (Luk 24:27, 24:44-45) Saat kita membaca lambang-lambang dan bayangan yang ada dalam perjanjian lama, kita dapat lebih mengerti bahwa saat ini kita berada dalam perjanjian baru, dimana Kristus adalah intinya! Semua janji-janji Tuhan telah menerima penggenapannya didalam Kristus. Jadi kita bisa membaca perjanjian lama untuk melihat janji-janji tersebut, lalu kita mengucap syukur pada Tuhan karena janji-janji itu telah diberikan kepada kita karena Kristus. (2 Kor 1:20).
Akan tetapi, sangat penting bila kita banyak memperhatikan Perjanjian Baru, khususnya dalam mempelajari surat-surat Paulus, yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran mendasar tentang perjanjian baru. Hal ini membantu kita untuk mengerti Perjanjian Baru dengan cara yang benar.